NYAMANNA : Seni Teh Artisan Harus Bermanfaat Hingga ke Petani

Syahrir Rasyid

RODA bisnis mulai berputar kembali seiring melandainya Pandemi Covid-19. Pembukaan bisnis baru terutama di bidang kuliner terus bergulir di kawasan Serpong City, Tangerang.

Menariknya, cafe dan resto yang hadir belakangan ini semakin terspesialisasi, bukan hanya menyajikan beragam minuman kopi seperti lazimnya.  

Sebagai contoh, Komune Cafe yang launching setahun yang lalu mengambil ceruk pasar dengan menawarkan minuman yang sangat fokus, yakni teh olahan yang diramu bunga-bungaan dan rempah-rempah. "Kami menyebutnya Teh Artisan," papar Ericko selaku pemilik Komune Cafe.

Lebih jauh, silakan disimak Podcast iNewsSerpong, klik link di laman ini.

Lebih jauh, Ericko menjelaskan, menu teh yang disajikan sebanyak 15 jenis. Bagi Ericko, menu teh yang menjadi andalan bisnisnya itu bukan sekadar jualan. Selain mengutamakan kualitas dan 100% teh asli Indonesia, dia juga berharap dapat memberi manfaat buat lingkungan dan orang lain dalam hal ini petani teh.

Komune Cafe tidak berlokasi di ruko seperti cafe kebanyakan, melainkan sebuah rumah yang berukuran besar disulap menjadi menjadi cafe. Suasana ruangan lebih lega. Dan, cafe yang berada tepat di depan gedung sekolah Penabur, Gading Serpong, difasilitasi private room. "Pengunjung bisa menggunakan private room untuk pertemuan tertutup," ungkap Ericko.    

Keistimewaan lain dari Komune Cafe adalah berkolaborasi dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan memberikan ruang pamer untuk produk usaha kecil. Ini kolaborasi ala pandemi. "Saat pandemi beberapa teman menitipkan produk, lalu kami beri ruang dan berlanjut hingga saat ini," jelas Ericko.

Menurut pria yang mengambil studi S1 di Negeri Jiran Singapura itu, bersiap kolaborasi dengan UMKM bidang apa saja, yang penting produknya unik dan menarik. Saat ini, terlihat sejumlah produk UMKM yang dipajang, seperti tas etnik yang otentik. (*)   

Editor : Syahrir Rasyid