Resesi Mengancam, BI Catat Permintaan Kredit RI Masih Tinggi

Michelle Natalia
.
Selasa, 18 Oktober 2022 | 13:43 WIB
Resesi di Depan Mata, Permintaan Kredit RI Tetap Meningkat. (Foto: MNC Media).

JAKARTA,iNewsSerpong.id Bank Indonesia (BI) menegaskan permintaan pembiayaan korporasi pada September 2022 terindikasi meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Pun dengan permintaan pembiayaan oleh rumah tangga. 

Permintaan pembiayaan korporasi naik tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pembiayaan korporasi sebesar 18,4%, lebih tinggi dari SBT pada bulan sebelumnya sebesar 17,9%. 

"Kebutuhan pembiayaan tersebut terutama dipenuhi dari dana sendiri yang masih menjadi mayoritas sumber pembiayaan, diikuti oleh pemanfaatan fasilitas kelonggaran tarik yang keduanya meningkat dibandingkan bulan sebelumnya," ujar Direktur Departemen Komunikasi BI, Junanto Herdiawan di Jakarta, Selasa (18/10/2022). 

Penyaluran kredit baru oleh perbankan pada September 2022 juga terindikasi tumbuh positif. Hal ini dilihat dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 56,8%. 

 

"Adapun faktor utama yang memengaruhi perkiraan penyaluran kredit baru tersebut, yaitu prospek kondisi moneter dan ekonomi ke depan, serta permintaan pembiayaan dari nasabah," ungkap Junanto.

Sementara itu, untuk keseluruhan periode kuartal III 2022, penawaran penyaluran kredit baru juga diperkirakan tumbuh positif meski sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di sisi rumah tangga, permintaan pembiayaan baru juga terindikasi tumbuh positif pada September 2022. Mayoritas rumah tangga memilih bank umum sebagai sumber utama penambahan pembiayaan meski menurun dibandingkan bulan sebelumnya. 

"Jenis pembiayaan yang diajukan rumah tangga mayoritas berupa Kredit Multi Guna. Adapun sumber pembiayaan lainnya yang menjadi preferensi responden untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan antara lain leasing dan leasing," pungkas Junanto.

Seperti diketahui, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati memberikan sinyal resesi ekonomi global pada 2023. Ekonomi dunia akan masuk jurang resesi seiring dengan tren kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan sebagian besar bank sentral di dunia secara bersamaan. 

 

Editor : A.R Bacho

Follow Berita iNews Serpong di Google News

Bagikan Artikel Ini