Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Lewat PropVaganza 2025, Rumah123 Perkuat Interaksi Pencari Properti dan Pengembang
Advertisement . Scroll to see content

Pengembang Minta Pemerintah Tanggung Pajak Beli Rumah Baru Hingga Akhir Tahun

Sabtu, 22 Januari 2022 | 09:17 WIB
  • author Oktiani Endarwati
Pengembang Minta Pemerintah Tanggung Pajak Beli Rumah Baru Hingga Akhir Tahun
REI menilai keputusan pemerintah memperpanjang insentif fiskal berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk pembelian rumah hingga Juni 2022 kurang efektif. (Foto : Ist)

JAKARTA, iNewsSerpong.id - Pengembang minta keputusan pemerintah yang telah memperpanjang insentif fiskal berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP), untuk pembelian rumah diperpanjang hingga akhir 2022.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida. Dia menilai, waktu perpanjangan selama 6 bulan dinilai kurang efektif. "Kami mengajukan insentif ini berlaku sampai akhir tahun 2022 karena pembangunan rumah itu tidak bisa cepat seperti membuat mobil," ujarnya dalam Market Review IDX Channel.

Totok melanjutkan, untuk menyelesaikan pembangunan rumah tapak (landed houses) pengembang membutuhkan waktu minimal 8 bulan. Di sisi lain, pengembang juga menghadapi kendala terkait perizinan lahan. Hal ini akan menghambat realisasi PPN DTP di lapangan.

Menurut dia, penerapan kebijakan PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) sebagai pengganti IMB (Izin Mendirikan Bangunan) membuat pengembang tidak bisa membangun. Salah satunya karena banyak daerah yang belum mengeluarkan peraturan daerah terkait PBG, namun masih berpatokan pada IMB.

"Perizinan kita belum satupun peraturan daerah yang mengatur PBG sesuai dengan Undang-Undang cipta kerja bahwa IMB diganti dengan PBG," ungkapnya.

Totok menuturkan, sulitnya penerapan PBG di lapangan akan menghambat para pengembang perumahan untuk menambah stok perumahannya. Untuk menyelesaikan hambatan tersebut maka semua instansi pemerintah perlu duduk bersama mencarikan solusi.

"Kita sudah sepakat dengan beberapa instansi untuk bersama-sama merapatkan diri supaya ada contoh perda PBG. Kalau sudah ada konsep perda PBG ini akan mempermudah daerah untuk membuat perdanya. Sementara membuat perda butuh waktu juga," tuturnya. (*)

Editor: Syahrir Rasyid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut