Hantavirus Gegerkan Dunia, WHO Waspadai Penularan di Kapal Pesiar
JAKARTA, iNewsSerpong.id – Dunia kesehatan internasional tengah dibuat waspada setelah muncul outbreak Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di kawasan Antartika.
Virus langka namun mematikan ini kembali menjadi sorotan usai diduga menyebabkan sejumlah kematian penumpang.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Virus ini dapat memicu penyakit serius pada manusia, terutama menyerang paru-paru dan ginjal dengan tingkat fatalitas cukup tinggi.
Menurut WHO, penularan paling umum terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi. Saat partikel mengering lalu terhirup manusia, infeksi bisa terjadi.
Gejala awal infeksi Hantavirus meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan kelelahan. Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien dapat memburuk drastis menjadi sesak napas berat akibat paru-paru dipenuhi cairan.
WHO mencatat tingkat kematian Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dapat mencapai 38 hingga 50 persen. Selain menyerang paru-paru, jenis lain yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) juga dapat menyebabkan gagal ginjal akut dan perdarahan.
Kekhawatiran global meningkat setelah sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam outbreak di kapal pesiar MV Hondius. Sejumlah penumpang lain masih menjalani observasi dan perawatan intensif.
Para ahli menduga wabah tersebut melibatkan Andes Hantavirus, strain langka yang memiliki kemampuan menular antarmanusia dalam kontak sangat dekat.
Meski demikian, WHO menilai risiko virus ini menjadi pandemi global masih rendah karena sebagian besar strain Hantavirus tidak mudah menyebar antarmanusia.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Hantavirus. Penanganan pasien dilakukan melalui perawatan intensif, bantuan oksigen, hingga ventilator jika terjadi gagal napas.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus guna mencegah penularan virus mematikan tersebut. (*)
Editor : Syahrir Rasyid