OPINI: Oleh Syahrir Rasyid, Pimpinan Redaksi iNewsSerpong
TERNYATA, bisik-bisik kecil antara Presiden China, Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin sebelum parade militer di Beijing, 3 September lalu, bukanlah percakapan biasa.
Topik yang mereka bicarakan kedua tokoh dunia itu cukup mencengangkan: kemungkinan manusia hidup hingga usia 150 tahun. Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, tapi ternyata bukan.
Ilmuwan di China memang sedang mengembangkan obat anti-penuaan yang diklaim mampu memperpanjang usia manusia sampai satu setengah abad. Sebuah terobosan besar dalam bidang bioteknologi modern.
Riset itu dilakukan oleh Lonvi Biosciences, laboratorium di Shenzhen yang fokus pada riset umur panjang. Dalam uji coba terhadap tikus, para peneliti menemukan bahwa tablet berbahan aktif procianidine C1 (PCC1) — zat alami yang diekstrak dari biji anggur — dapat memperlambat penuaan sel dan meningkatkan harapan hidup hingga 64,2 persen.
Chief Technical Officer Lonvi Biosciences, Liu Xinghua, menyebut bahwa kini umur panjang bukan lagi mitos, tetapi prospek ilmiah yang bisa dicapai dengan mengendalikan proses pembaruan sel.
Pernyataan yang berani, tapi sekaligus menggugah rasa ingin tahu dunia ilmiah.
Tahun 2024, usia harapan hidup rata-rata warga China telah mencapai 79 tahun, lima tahun di atas rata-rata global.
China memang sedang berlari kencang. Dalam otomotif, penjualan mobil listrik BYD sudah melampaui Tesla milik Elon Musk. Dalam teknologi informasi, mereka juga mampu menandingi inovasi negara-negara maju.
Sukses itu bukan hasil kebetulan. Di baliknya ada sinergi kuat antara pemerintah dan sektor swasta. Bukan sekadar wacana, tetapi aksi nyata yang terencana dan berkesinambungan.
Tak banyak perdebatan, lebih banyak kerja. Barangkali ini yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita di Indonesia: kemajuan tidak lahir dari adu pendapat, tapi dari kerja sama.
Umur Panjang Bawa Keberkahan
Namun di balik gegap gempita dunia sains dan ambisi memperpanjang umur, ada pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: Apakah umur panjang otomatis membawa keberkahan?
Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, umur panjang hanyalah karunia, tapi keberkahannya bergantung pada bagaimana kita mengisinya. Jika usia panjang hanya digunakan untuk bermaksiat, melupakan Allah, atau menunda kebaikan, maka panjang umur bukanlah nikmat, melainkan ujian.
Nikmat di Balik Umur Panjang
Sebaliknya, jika umur panjang digunakan untuk berbuat baik, menebar manfaat, dan memperbanyak amal saleh, maka setiap detik kehidupan menjadi ladang pahala.
Orang yang usianya melampaui umur Rasulullah — 63 tahun — sering dianggap beruntung, karena mendapat “bonus waktu” untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal.
Dalam ajaran Islam, umur panjang seharusnya dimanfaatkan untuk membangun investasi amal jangka panjang.
Rasulullah mengajarkan, ada tiga amal yang tidak akan putus meski seseorang telah tiada: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan.
Inilah bentuk umur panjang yang sejati — bukan panjang dalam hitungan tahun, tapi panjang dalam keberkahan.
Karena hidup sejatinya bukan tentang berapa lama kita bernapas, tapi seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan.
Jadi, jika sains suatu hari benar-benar menemukan cara agar manusia hidup 150 tahun, semoga umur itu tidak hanya panjang secara biologis, tetapi juga panjang dalam kebaikan, kasih sayang, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Sebab, umur panjang tanpa keberkahan hanyalah angka, sementara umur berkah akan hidup abadi dalam amal dan doa. (*)
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Rusia Xi Jinping sedang berbincang. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
