TANGERANG RAYA, iNewsSerpong.id – Hujan bagi sebagian orang mungkin membawa kesejukan. Namun tidak bagi Rira Mia Nur Wulan. Setiap tetes hujan justru menjadi alarm bencana kecil yang terus berulang di rumahnya.
Warga Kampung Cicayur 1, Pagedangan, Kabupaten Tangerang itu mengaku sudah 28 kali rumahnya terendam banjir.
Bukan karena sungai meluap, melainkan akibat pembangunan kawasan komersial di sekeliling permukiman, yang berada di area BSD City.
Bukan Angkat Jemuran
“Kalau hujan turun, kami bukan angkat jemuran, tapi angkat barang,” ujar Rira lirih.
Rumah Rira berdempetan dengan tembok tinggi kawasan BSD City—yang oleh warga dijuluki “tembok Berlin”—dengan jarak tak sampai 50 sentimeter.
Di balik tembok itu berdiri bangunan komersial seperti Rans Nusantara Hebat dan supermarket GrandLucky.
Menurut Rira, persoalan utama terletak pada saluran air yang sempit dan tak memadai. Meski sempat diperbaiki pihak kelurahan, banjir tetap datang, terutama saat hujan deras mengguyur.
Hanya Pasrah Tunggu Air Surut
Dari sekitar empat rumah terdampak, rumah Rira menjadi yang paling parah. Air kerap menggenang setinggi 10 hingga 30 sentimeter. Tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu air surut.
Ironisnya, Rira mengaku tidak anti pembangunan. Ia justru senang wilayahnya berkembang.
Jujur, ungkap Rira, senang melihat perkembangan pembangunan yang ada di wilayahnya dibawa pengembang BSD City. Itu menandakan ekonomi berputar dan lapangan kerja tersedia.
Namun satu hal yang ia minta sederhana. “Kami tidak menuntut apa-apa. Kami hanya ingin tidak kebanjiran terus,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pembangunan megah di satu sisi, air dan lumpur di sisi lain. Pertanyaannya, sampai kapan warga kampung harus terus pasrah? (*)
Rumah warga Kampung Cicayur 1, Pagedangan, Kabupaten Tangerang yang terkena banjir lokal. (Foto: iNewsSerpong)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
