WASHINGTON, iNewsSerpong.id — Direktur Anggaran Gedung Putih, Russell Vought, menolak mengungkap estimasi biaya agresi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran kepada parlemen.
Ia berdalih angka pengeluaran terus berubah sehingga sulit dihitung secara pasti.
“Saya tidak ingin membuat karakterisasi tentang hal itu saat ini,” ujarnya menanggapi laporan yang menyebut biaya konflik telah mencapai puluhan miliar dolar.
Kuras Anggaran Sekitar USD 10 Miliar per Pekan
Sejumlah senator memperkirakan perang tersebut dapat menguras hingga USD10 miliar per pekan.
Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan permintaan tambahan anggaran pertahanan.
Kritikus menilai sikap tertutup ini sebagai upaya menyembunyikan besarnya beban fiskal di tengah lonjakan utang nasional AS.
Potensi Lonjakan Harga Energi
Sementara itu, Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan dampak serius jika Selat Hormuz ditutup dalam waktu lama.
Ia menyebut pasar saat ini meremehkan potensi lonjakan harga energi.
Menurut Birol, pasokan minyak, gas, dan bahan bakar ke Asia mulai tersendat, memicu kesenjangan pasokan. Negara berkembang disebut paling rentan terdampak akibat lemahnya mata uang dan keterbatasan finansial.
Ia juga mengingatkan potensi kelangkaan produk olahan seperti minyak tanah dan solar yang dapat mengganggu penerbangan serta aktivitas industri global. (*)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
