Desa Ini Dihuni Mayoritas Pepempuan, Laki-laki di Atas 18 Tahun Dipaksa Bekerja Jauh dari Rumah
JAKARTA, iNews.Serpong.id - Sebuah desa di Rio de Janeiro, Brasil, mayoritas dihuni kaum perempuan. Laki-laki d atas 18 tahun dan para suami dipaksa bekerja jauh dari rumah. Mereka hanya diperbolehkan berada di desa ini di akhir pekan.
Perempuan penghuni desa ini sebagian besar tanpa pasangan hidup. Mereka mengelola keuangan desa, bekerja di ladang, dan menjalankan pertunjukan tanpa kehadiran laki-laki.
Terletak di Belo Vale, sekitar 300 mil sebelah utara Rio de Janeiro, desa ini bernama Noiva do Cordeiro. Lembah ini dipenuhi dengan rumpun jeruk keprok manis yang berkulit tebal, tanaman pisang, dan pohon ipe yang diselimuti bunga kuning cerah.
Sebagai perempuan normal, mereka pun merindukan cinta dari lawan jenis dan menemukan jodoh. “Aku sudah lama tidak mencium seorang pria. Kami semua bermimpi jatuh cinta dan menikah," kata Nelma Fernandes, seorang wanita lajang berusia 23, salah satu penduduk di desa itu.
Menurut laporan The Telegraph, para wanita tersebut menerapkan sejumlah syarat dalam mencari pria untuk dijadikan pasangan hidup mereka. “Di sini, satu-satunya pria yang kami temui memiliki hubungan keluarga dengan kami. Semua orang sepupu,” ujar Nelma Fernandes.
Meski banyak yang mencari cinta, tak sedikit juga yang cukup bahagia untuk hidup mandiri dengan melajang. Noelie Fernandes Pereira, salah satunya. Wanita lajang 42 tahun itu bisa menghasilkan uang dan menghidupi dirinya sendiri dengan mengolah sayur-sayuran, buah-buahan, dan padi yang di tanam di desa itu.
Pereira salah satu dari 80 pekerja pertanian yang hampir semuanya wanita. Dia kerap mengenakan topi jerami bertepi lebar untuk menghindari terik matahari tengah hari saat bekerja. “Tempat ini istimewa karena cinta semua orang,” ucapnya.
Selain nyaman hidup melajang, dia juga mengungkapkan alasannya mengapa belum juga menikah di usianya yang telah menginjak kepala empat. "Aku hanya belum menemukan pria yang tepat,” katanya.
Desa Noica do Cordeiro memiliki 600 populasi wanita. Meski terdengar indah, para wanita muda di desa itu mulai memprotes rasa frustrasi mereka yang semakin besar karena ketidakhadiran pria.
Kurangnya lelaki paruh baya yang memenuhi syarat kini telah menyebabkan banyak wanita muda lajang di desa itu untuk mengajukan banding bagi pria yang tertarik, tetapi hanya mereka yang mau beradaptasi untuk hidup di dunia wanita. Namun, desa ini memiliki peringatan tersendiri: pria harus menjalani hidup mereka sesuai aturan wanita.
Beberapa wanita Noiva de Cordeiro sudah menikah dan memiliki keluarga, tetapi suami mereka dan setiap putra berusia di atas 18 tahun dipaksa bekerja jauh dari rumah dan hanya diizinkan kembali pada akhir pekan. Ini berarti kekuatan perempuan berkuasa di komunitas pedesaan, dengan perempuan bertanggung jawab atas setiap aspek kehidupan, mulai dari pertanian hingga perencanaan kota dan bahkan agama.
Para penduduk di sana mengatakan, desa mereka jauh lebih baik untuk itu. Kota kecil ini didirikan oleh Maria Senhorinha de Lima yang dikucilkan setelah dia melarikan diri dari pernikahan paksa. Dia juga dicap sebagai pezina pada saat yang sama. Dia diusir dari kota pada tahun 1891 setelah gereja Katolik mengucilkannya dan lima generasi berikutnya dari keluarganya ketika dia dikurung dengan pelamar lain.
Dijauhi oleh penduduk setempat, dia dan wanita lain yang kemudian tinggal bersama mereka difitnah sebagai wanita lepas dan pelacur, menyebabkan mereka mengisolasi diri dari dunia luar. Tak lama kemudian, wanita lain yang ditolak oleh masyarakat bergabung dengannya di kota itu.
Pada 1940, seorang pendeta evangelis, Anisio Pereira, mengambil salah satu wanita berusia 16 tahun untuk menjadi istrinya dan mendirikan gereja di komunitas yang berkembang. Namun, dia terus memberlakukan aturan yang ketat, melarang mereka minum alkohol, mendengarkan musik, memotong rambut atau menggunakan segala jenis kontrasepsi.
Ketika Anisio meninggal pada 1995, para wanita memutuskan untuk tidak pernah lagi membiarkan seorang pria mendikte bagaimana mereka harus hidup. Salah satu hal pertama yang mereka lakukan adalah membongkar agama terorganisir yang bias laki-laki yang telah dia dirikan. (*)
Editor : Burhan