Mojtaba, Putra Khamenei, Digadang Jadi Pemimpin Tertinggi Iran Berikutnya
Masalah terbesar Mojtaba bukan sekadar politik, melainkan legitimasi. Konstitusi Iran mengharuskan Pemimpin Tertinggi memiliki pengalaman politik formal dan kredensial teologis tinggi. Mojtaba dinilai belum memenuhi standar tersebut.
Lebih sensitif lagi, Iran memiliki tradisi kuat menolak suksesi berbasis keluarga. Pada 1989, bahkan putra Ruhollah Khomeini tersingkir karena alasan serupa. Khamenei sendiri pernah menegaskan bahwa pemerintahan turun-temurun “bukanlah Islami”.
Jika Mojtaba tetap dipaksakan, potensi retakan di tubuh elite penguasa bisa melebar. Publik pun berpeluang bereaksi keras terhadap kesan dinasti kekuasaan.
Kini Iran berdiri di persimpangan sejarah. Apakah Majelis Pakar akan memilih kesinambungan lewat darah keluarga, atau justru menghindari risiko dan mencari figur kompromi?
Jawabannya bisa menentukan masa depan Republik Islam — dan stabilitas kawasan Timur Tengah. (*)
Editor : Syahrir Rasyid