Suara Pilu Nikita Mirzani dari Balik Jeruji, Suratnya Bikin Hati Teriris
JAKARTA, iNewsSerpong.id — Dari balik dinginnya tembok Rutan Pondok Bambu, suara pilu Nikita Mirzani akhirnya pecah. Bukan lewat kamera, melainkan lewat secarik surat yang mengalir penuh emosi dan mengguncang nurani.
Surat yang diterima melalui kuasa hukumnya, Usman Asgar, menjadi jeritan hati seorang ibu yang merasa terpojok dalam pusaran hukum yang tak berpihak.
Dengan tangan gemetar, Nikita menulis bukan karena takut—melainkan karena lelah menghadapi proses panjang yang ia sebut penuh kejanggalan.
“Hari ini, pena saya gemetar bukan karena takut, tapi karena lelah,” tulisnya getir.
Ia bahkan menuding hukum seakan berubah arah, dengan pasal yang disebutnya berganti sesuka hati. Dalam narasinya, keadilan terasa seperti ilusi yang semakin jauh digapai.
Namun, bagian paling menyayat justru muncul saat ia menyinggung tiga anaknya.
Selama satu tahun mendekam, bukan jeruji yang paling menyiksa—melainkan jarak dari buah hati.
“Mereka tidak butuh hukum, mereka butuh ibunya,” tulisnya lirih.
Di tengah keterpurukan, Nikita menegaskan satu hal: ia tak akan menyerah. Pertanyaannya kini menggantung—sampai kapan “sandiwara hukum” ini berakhir? (*)
Editor : Syahrir Rasyid