HIKMAH JUMAT : Mungkin Ini Tahun Hijriyah Terakhir Kita
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
HARI INI adalah Jum’at terakhir di tahun 1447 H. Banyak catatan yang sudah kita torehkan di tahun ini, mungkin amal saleh atau mungkin amal salah. Kini, tahun 1447 H akan segera berganti, namun tidak ada seorang pun yang tahu berapa sisa umurnya.
Kita merencanakan banyak hal untuk tahun depan, bulan depan, bahkan esok hari. Namun, tidak ada yang bisa memastikan bahwa kita masih diberi kesempatan untuk menyaksikan datangnya tahun baru 1448 H.
Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting untuk direnungkan: Bagaimana jika ini adalah tahun Hijriyah terakhir kita?
Pertanyaan itu memang terasa menyesakkan. Tetapi justru di sanalah letak hikmahnya. Islam mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar hidup menjadi lebih bermakna.
Allah Ta’ala berfirman: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 185)
Salah satu nikmat terbesar yang sering diabaikan manusia adalah waktu. Kita begitu mudah menghabiskan berjam-jam untuk hal-hal yang tidak penting, tetapi merasa berat untuk meluangkan beberapa menit membaca Al-Qur'an, berdzikir, atau bermuhasabah.
Padahal Allah bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur'an: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr [103]: 1-3)
Setiap detik yang berlalu sesungguhnya adalah bagian dari umur yang tidak akan pernah kembali. Ketika tahun Hijriyah berganti, sejatinya bukan hanya angka yang berubah. Umur kita pun berkurang satu tahun.

Editor : Syahrir Rasyid