Perajin Tempe di Tangerang Terpaksa Perkecil Ukuran Produk, Buntuk Kenaikan Harga Kedelai
TANGERANG RAYA, iNewsSerpong.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memukul telak para pelaku UMKM.
Di Kabupaten Tangerang, Banten, para perajin tempe terpaksa memutar otak agar tidak gulung tikar akibat melonjaknya harga bahan baku impor.
Kenaikan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama otomatis mengatrol biaya produksi. Salah seorang perajin tempe di Kecamatan Curug, Hapid (55), mengaku tak punya pilihan lain demi bertahan hidup.
Padahal, usaha yang telah ia rintis selama lebih dari 20 tahun ini merupakan sumber penghidupan utama keluarganya.
"Konsumennya turun karena (ukuran tempenya) dikecilkan. Harapannya, pemerintah harus perhatian kepada pengusaha tempe agar produksinya lancar lagi seperti semula," ujar Hapid, Jumat (12/6/2026).
Hapid membeberkan, harga kedelai yang semula berada di kisaran Rp9.000 per kilogram, kini melonjak drastis hingga menyentuh Rp11.000 sampai Rp12.000 per kilogram.
Kenaikan ini dipicu oleh tingginya nilai tukar dolar AS, mengingat sebagian besar pasokan kedelai nasional masih bergantung pada jalur impor.
Penderitaan perajin makin bertambah lantaran harga plastik sebagai bahan pembungkus tempe ikut-ikutan naik. Imbas dari pembengkakan biaya produksi ini, Hapid terpaksa memangkas kapasitas produksinya secara signifikan.
Jika biasanya ia mampu mengolah hingga dua kuintal kedelai per hari, kini produksinya merosot tajam menjadi hanya sekitar 80 kilogram saja. (*)
Editor : Syahrir Rasyid