Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kok Bisa? Ketupat Identik dengan Lebaran dan Apa Filosofinya?
Advertisement . Scroll to see content

Tradisi Ketupat dan Opor Jadi Hidangan Lebaran, Dikenalkan Sunan Kalijaga

Sabtu, 30 April 2022 | 20:31 WIB
  • author Donatus Nador
Tradisi Ketupat dan Opor Jadi Hidangan Lebaran, Dikenalkan Sunan Kalijaga
Ketupat dan opor ayam menjadi makanan khas Lebaran. Uniknya, walau kedua jenis makanan itu bisa dibuat dan dimakan kapan saja, namun suasana khas Lebaran menjadi pembeda yang dirindukan. Foto ilustrasi SINDOnews

JAKARTA, iNewsSerpong.id - Ketupat dan opor ayam menjadi makanan khas Lebaran masyarakat Indonesia. Uniknya, walau kedua jenis makanan itu bisa dibuat dan dimakan kapan saja, namun suasana khas Lebaran menjadi pembeda yang dirindukan.

Konon, tradisi menyantap ketupat dan opor ayam saat Lebaran sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Dan yang memperkenalkan ketupat dan opor ayam hingga menjadi hidangan ikonis di saat Lebaran adalah Sunan Kalijaga, saat dia memimpin Kerajaan Demak.

Sunan Kalijaga menggunakan budaya dan tradisi lokal untuk mengenalkan agama Islam agar mudah diterima, termasuk kuliner lokal, yaitu ketupat dan opor ayam.

Tentu saja, Sunana Kalijaga menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah karena dia memahami betul makna kuliner ketupat dan opor ayam salam budaya Jawa.

Dirangkum dari berbagai sumber, ketupat dalam tradisi dan budaya Jawa, sarat makna. Ketupat tak hanya sekadar olahan beras berbungkus daun kelapa muda, tapi juga memiliki makna mendalam.

Setiap unsur dari ketupat memiliki filosofi. Pertama, daun kelapa muda atau janur. Dalam bahasa Jawa, janur merupakan akronim dari 'Janna Nur' yang berarti cahaya surga.

Akronim lain dari janur yaitu 'Jatining Nur' yang artinya hati nurani. Kedua, proses pembuatan ketupat yang harus dianyam juga memiliki makna. Anyaman ketupat yang rumit menggambarkan keragaman masyarakat Jawa yang harus dieratkan dengan silaturahmi.

Ketiga, beras sebagai isian ketupat juga memiliki filosofi nafsu duniawi. Keempat, ketupat yang berbentuk belah ketupat ini memiliki filosofi kuat bagi masyarakat di Jawa.

Bentuk ketupat ini dilambangkan sebagai perwujudan kiblat papat limo pancer. Ini melambangkan keseimbangan alam dalam empat arah mata angin utama, timur, selatan, barat, dan utara.

Meskipun memiliki empat arah, namun hanya ada satu kiblat atau pusat. Keempat sisi ketupat ini diasumsikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki manusia yang dikalahkan dengan berpuasa.

Editor: Syahrir Rasyid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut