Ketika Kata-Kata Tidak BergunaKisah, 3 Orang Tuli dan Darwis Bisu

Miftah H. Yusufpati
Kata-kata kadang merupakan bentuk komunikasi yang tidak berguna, bahwa orang mungkin lebih baik tidak pernah mengucapkannya! Foto/Ilustrasi: Ist

JAKARTA, iNewsSerpong.id - Pada suatu ketika, hidup seorang penggembala miskin. Setiap hari ia membawa domba-domba ke bukit mencari rumput segar, memandangi desa di mana ia tinggal dengan keluarganya. Ia tuli, tetapi hal itu tidak menjadi masalah baginya.

Suatu hari, istrinya lupa mengirim bungkusan makan siangnya; juga tidak menyuruh anak mereka untuk membawakannya, sebagaimana berlalunya waktu, kiriman itu tetap terlupakan, bahkan saat matahari sudah di atas kepala.

"Aku akan pulang dan mengambilnya," pikir si penggembala. "Aku tidak dapat tinggal di sini sepanjang waktu sampai matahari turun tanpa sepotong makanan."

Tiba-tiba ia memperhatikan seorang pemotong rumput di tepi bukit. Ia menghampirinya dan berkata, "Saudaraku, tolong jaga domba-domba ini dan awasi jangan sampai tersesat atau berkeliaran, karena istriku begitu bodoh melupakan makan siangku, dan aku harus kembali ke desa untuk itu."

Pemotong rumput itu juga tuli, dan ia tidak mendengar satu kata pun yang diucapkan, dan sama sekali salah paham terhadap maksud si penggembala.

Jawabnya, "Mengapa aku harus memberimu rumput yang kupotong untuk binatang piaraanku sendiri? Aku mempunyai seekor sapi dan dua ekor kambing di rumah, dan aku harus pergi jauh dan luas demi mencari makanan untuknya. Tidak, tinggalkan aku. Aku tidak berurusan dengan orang sepertimu, ingin mengambil milikku yang cuma sedikit."

Dan ia menggerakkan tangannya dalam sikap mengejek, tertawa kasar. Si penggembala tidak mendengar apa yang dikatakan, dan menjawab, "Oh, terima kasih, teman baik, atas kesediaanmu. Aku akan sesegera mungkin kembali. Semoga keselamatan dan berkah atas dirimu, engkau telah meringankan pikiranku."

Ia berlari ke desa menuju pondok sederhananya. Di sana ia mendapati istrinya sakit demam, dirawat oleh para istri tetangga. Ia mengambil bungkusan makanan dan berlari kembali ke bukit. Dia menghitung domba-dombanya dengan cermat, dan semuanya masih lengkap.

Si pemotong rumput masih sibuk dengan pekerjaannya, dan si penggembala itu berkata pada dirinya sendiri, "Mengapa, betapa luar biasa pribadi pemotong rumput yang dapat dipercaya ini! Ia sudah menjaga domba-dombaku agar tidak terpencar, dan tidak mengharapkan terima kasih untuk pelayanan tersebut! Aku akan memberinya domba pincang ini yang semula memang akan kusembelih. Hal itu akan menjadi makanan lezat baginya dan keluarganya nanti malam."

Editor : Syahrir Rasyid

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update