Berdakwah Lewat Musik Rap dan Komedi, Kisah Maryum Putri Muhammad Ali

Miftah H. Yusufpati
Maryum Ali atau yang lebih dikenal sebagai May May, anak tertua dari 9 bersaudara di keluarga Muhammad Ali. Foto/Ilustrasi: Instagram

JAKARTA, iNewsSerpong.id - Maryum Ali atau yang lebih dikenal sebagai May May adalah anak tertua dari 9 bersaudara di keluarga Muhammad Ali . Maryum lahir pada 18 Juni 1968. Dia seorang bintang rap yang ngetop lewat rekaman compact disc-nya, "May May: The Introduction" pada tahun 1992.

"Album solo saya yang pertama berjudul Life's a Test. Sebenarnya, ketika saya sedang membaca Al-Quran dan melihat catatan kakinya, saya memahami bahwa hidup adalah sebuah ujian dan saya berkata, wah, ini judul yang bagus!" ujar Maryum Ali dalam buku berjudul "American Jihad, Islam After Malcolm X" karya Steven Barbosa.

Dia berkata dia telah ditolak oleh beberapa perusahaan rekaman --dia ditolak beratus-ratus kali karena nama akhirnya adalah Ali dan orang mengira bahwa dia seorang gadis kaya yang tidak mempunyai bakat atau alasan untuk nge-rap.

Akhirnya dia berhasil mendaratkan sebuah persetujuan dan dalam discnya dia menyampaikan terima kasih kepada "semua yang tidak mempunyai alasan" untuk memberinya kesempatan. "Terimakasih untuk motivasinya," katanya.

"The Introduction" memiliki nuansa tanggung jawab sosial --pesan-pesan yang positif untuk kaum muda-- juga kesaksian tentang penyakit-penyakit dunia: penganiayaan, baku tembak, kebrutalan polisi, citra kaum kulit hitam yang stereotip.

"Rapumentary Ali" adalah sebuah persembahan kepada ayahnya, idolanya. May May, yang dibesarkan oleh kakek-neneknya setelah orang tuanya bercerai, ingin menjadi seorang petinju.

Dia menetapkan pendiriannya untuk menjadi seorang pelawak wanita tetap di Los Angeles sebelum mendapatkan persetujuan rekamannya.

Sebelum makan malam di sebuah restoran Thai-Muslim di LA, dia menyanyikan salah satu lagu rapnya. Kemudian dia berfoto dengan pose sedang memeluk pemilik restoran dan istrinya.

Dia pernah tampil sebagai komedian selama 12 tahun di berbagai tempat dan memenuhi ruangan publik dengan humor serta pengamatan mendalam tentang masalah-masalah sosial.

Dia bergabung dengan The Comedy Store di Hollywood, dia bekerja bersama dengan talenta seperti Jim Carey, Chris Rock, dan Martin Lawrence. Di waktu yang sama, dia juga menulis lirik musik rap dengan rencana menerbitkan musiknya.

Baca juga: Laila Ali, Anak Legendaris Muhammad Ali Jadi Petinju Dunia

Maryum Ali adalah anggota Nation of Islam. Ini merupakan gerakan sekaligus organisasi yang menggabungkan unsur-unsur Islam tradisional dengan ide-ide nasionalis kulit hitam.

Organisasi ini didirikan oleh Wallace Fard Muhammad pada 1930 di Detroit, Michigan, AS. Fard Muhammad tiba-tiba menghilang secara misterius pada 1934. Tampuk kepemimpinan Nation of Islam lantas dipegang oleh Elijah Muhammad.

Elijah Muhammad lantas memimpin organisasi tersebut selama 41 tahun berikutnya. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Malcolm X dan Muhammad Ali.

Dengan pesan pemberdayaan kulit hitam, Nation of Islam tumbuh menjadi salah satu organisasi Afrika-Amerika terbesar di AS.

Gaya Islam
Dalam buku yang telah diterjemahkan Sudirman Teba dan Fettiyah Basri menjadi "Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X" (Mizan, 1995) May May bertutur sebagai berikut:

Seandainya saya harus mengulangi hidup saya, saya tidak akan meminta orang lain untuk membesarkan saya. Hidup keseharian saya, dan cara berpikir saya, merupakan gaya Islam dan gaya kakek-nenek saya --Aminah dan Sadru-Din Ali.Apakah Anda percaya bahwa orang kulit putih itu adalah iblis?

Saya belum cukup dewasa untuk memandang seorang kulit putih dan berkata, "Oh, ini iblis itu!" Tetapi saya tahu itulah keseluruhan konsepnya. Saya tidak pernah benar-benar memahaminya karena saat itu saya masih terlalu muda. Saya masih bermain dengan boneka saya.

Nation sangat tepat dalam aksi tetapi tidak dalam konsep. Aksi mereka selama ini adil dan benar --saya harap kaum Muslim sekarang bertindak seperti Nation. Mereka terorganisir. Saya bangga menjadi seorang gadis kecil Muslimah.

Ayah saya seorang yang sangat sensitif. Jika dia melihat seseorang dalam kesulitan, dan dia tidak terburu-buru untuk suatu urusan, dia akan segera menolong orang tersebut, karena dia merasa bahwa itu merupakan suatu berkah.

Pada suatu malam, ketika itu turun hujan, dia pergi sendiri mengendarai mobilnya kemudian dia membawa pulang sebuah keluarga. Mereka terdiri dari seorang ibu, bapak, dua bayi dan seorang anak berumur tujuh tahun.

Kebetulan istrinya, Veronica, sedang bepergian ke luar negeri, dan dua anaknya yang lain bermalam di rumah teman mereka. Dia menempatkan keluarga itu di kamar anak-anaknya dan menyuruh mereka tidur di sana. Dia memberi mereka makan, dan membelikan tiket kereta api supaya mereka dapat kembali ke daerah asal mereka. Ayah saya tidak takut akan apa pun.

Kami sering bepergian. Di bandar udara, saya mengamati betapa setiap orang yang kami temui mengenalinya. Jika kami di jalan, mereka meneriakkan namanya. Saya tahu ayah saya tidak mengenal orang-orang itu. Jadi, ayah saya seperti seorang bintang di film-film televisi atau di bioskop.

Ketika saya mulai dapat berjalan dan bicara, saya mengetahui dia orang yang terkenal, karena saya pergi bersamanya untuk beberapa wawancara. Saya selalu bersama ayah. Saya selalu ingin berada di sampingnya. Saya sangat mencintainya. Dia banyak bermain dan bercanda dengan saya.

Tetapi saya tidak terlalu dilindungi. Saya banyak melihat hal yang sebenarnya tidak seharusnya saya lihat pada usia lima, enam atau tujuh tahun.Saya selalu ingin tahu ketika masih kecil. Saya ingin tahu segala sesuatu yang terjadi, dan melihat segala sesuatu yang seharusnya tidak saya lihat. Maksud saya, dunia seolah berada di rumah saya.

Saya melihat artis penipu meminta uang, para wanita membenci ibu saya, berusaha mengerling ayah saya. Saya melihat semuanya. Pada usia muda saya sudah melihat bagaimana orang dapat begitu manipulatif.

Jika saya melihat seorang wanita mendekati ayah lalu dia memberikan tanda tangannya dan sebuah ciuman di pipi serta beramah-tamah dengannya, saya akan berkata, "Saya akan bilang pada sang Utusan!" Sebab sebesar apa pun cinta saya pada ayah saya, saya tahu siapa bossnya, dan itu adalah Elijah Muhammad. Dia begitu setia pada sang utusan tersebut.

Apakah menurut Anda menjadi putri Muhammad Ali membantu Anda mendapatkan sebuah persetujuan rekaman?

Tidak, hal itu tidak membantu. Bisnis ini sangat berat, memakan waktu. Anda akan melihat banyak orang dalam bisnis ini harus menunggu selama 10 tahun untuk mendapatkan sebuah persetujuan rekaman. Ada juga orang yang tidak mempunyai ayah yang terkenal yang hanya menunggu satu tahun.

Dengan menjadi putri Ali, secara otomatis kaum muda akan mengenal saya. Kesan pertama yang mereka dapatkan adalah --Saya ragu, jangan-jangan dia dimanja.

Saya khawatir jangan-jangan dia telah memiliki segalanya. Itulah hal pertama yang dipikirkan kawan sebaya saya --sampai mereka merasa harus mengenal saya.

Jadi saya pikir sulit sekali bagi saya untuk membuktikan keberadaan saya di musik rap. Sulit sekali, karena orang-orang hanya menunggu saya untuk mencari-cari hal yang tidak mereka sukai.

Saya harus meyakinkan bahwa segala sesuatunya telah sempurna. Saya merasa harus menjelaskan latar belakang saya --bahwa saya tidak dibesarkan sebagai orang kaya. Satu-satunya jalan agar mereka mau membeli kaset Anda adalah dengan membuat mereka menyukai Anda.

Editor : Syahrir Rasyid

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update