HIKMAH JUMAT : Tujuh Kunci Sukses Ibadah di Bulan Ramadhan

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Ramadhan harus diawali dengan niat yang tulus semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan karena tradisi, tuntutan sosial, atau sekadar mengikuti kebiasaan tahunan. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang)

KURANG DARI sepekan lagi Ramadhan 1447 H akan hadir di muka bumi sebagai tamu istimewa yang datang setahun sekali. Bulan Ramadhan yang agung membawa misi suci yakni menjadikan orang-orang yang beriman sebagai orang yang mutaqin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Oleh karenanya merugilah orang yang hidup di dalam bulan Ramadhan yang agung, namun tidak menyebabkan dirinya berubah menjadi orang yang mutaqin. Ramadhan berlalu, namun kondisi keimanannya tidak mengalami peningkatan sedikit pun.

Untuk itu, terdapat tujuh kunci sukses ibadah di bulan Ramadhan yang agung, agar misi kedatangan bulan Ramadhan dapat diwujudkan. Ketujuh kunci sukses ibadah tersebut dapat dipaparkan di bawah ini.

Niat Ikhlas dalam Ibadah

Segala amal tergantung pada niatnya. Tanpa niat yang benar, ibadah bisa kehilangan nilainya di sisi Allah. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan harus diawali dengan niat yang tulus semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan karena tradisi, tuntutan sosial, atau sekadar mengikuti kebiasaan tahunan. Ketika niat kita lurus, setiap lelah dalam berpuasa, setiap kantuk saat tarawih, dan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk sedekah akan bernilai pahala besar.

Ikhlas juga berarti menjaga hati dari riya (pamer ibadah). Di era media sosial, godaan untuk mempublikasikan setiap amal sangat besar. Maka, penting bagi kita untuk lebih fokus pada kualitas ibadah daripada pengakuan manusia.

Memperbanyak Tilawah dan Tadabbur Al-Qur’an

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Baginda Rasulullah SAW setiap Ramadhan bertadarus bersama Malaikat Jibril. Dalam hadits disebutkan: “Jibril menemui Nabi setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajarkan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)

Kesuksesan ibadah Ramadhan sangat terkait dengan kedekatan kita kepada Al-Qur’an. Tidak cukup hanya membaca, tetapi juga memahami dan mentadabburi maknanya. Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu sebagai cahaya kehidupan. Semakin dekat kita dengannya, semakin terang hati kita.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)
 

Menjaga Shalat Wajib dan Menghidupkan Shalat Sunnah

Shalat adalah tiang agama. Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tetapi juga tentang memperbaiki kualitas shalat. Pastikan shalat lima waktu dikerjakan tepat waktu, berjamaah di masjid (bagi laki-laki), dan dengan khusyuk.

Selain itu, hidupkan shalat sunnah seperti tarawih, tahajud, dan witir. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat malam di bulan Ramadhan) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tarawih bukan sekadar rutinitas, tetapi kesempatan emas untuk meraih ampunan Allah. Begitu pula qiyamul lail di sepuluh malam terakhir yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr [97]: 3).

Menjaga Lisan dan Perilaku

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia atau dosa. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Menjaga lisan dari ghibah, fitnah, dan kata-kata kasar adalah bagian penting dari kesuksesan puasa. Begitu pula menjaga pandangan, pendengaran, dan seluruh anggota tubuh dari maksiat.

Ramadhan adalah sekolah pengendalian diri. Jika kita mampu mengendalikan diri selama sebulan penuh, maka seharusnya setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih santun dan berakhlak mulia.

Memperbanyak Sedekah dan Kepedulian Sosial

Ramadhan adalah bulan berbagi. Baginda Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan (HR. Bukhari). Sedekah di bulan Ramadhan memiliki pahala yang berlipat ganda.

Memberi makan orang yang berpuasa pun mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Baginda Nabi SAW (HR. Tirmidzi).

Kesuksesan ibadah tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan berbagi kebahagiaan adalah wujud nyata iman yang hidup.


Kesuksesan ibadah Ramadhan sangat terkait dengan kedekatan kita kepada Al-Qur’an. Tidak cukup hanya membaca, tetapi juga memahami dan mentadabburi maknanya. (Foto: Ist)
 

Memanfaatkan Waktu dengan Baik

Ramadhan adalah bulan yang singkat namun penuh peluang pahala. Sayangnya, banyak orang justru menyia-nyiakan waktu dengan hal yang kurang bermanfaat. Kehadiran Ramadhan tidak dioptimalkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah demi waktu: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3)

Gunakan waktu Ramadhan untuk memperbanyak dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, dan introspeksi diri. Kurangi aktivitas yang melalaikan seperti berlebihan dalam hiburan.

Baginda Rasulullah SAW juga memperbanyak doa ketika berbuka karena doa orang yang berpuasa tidak tertolak. Maka, manfaatkan momen berbuka sebagai waktu mustajab untuk memohon ampunan dan kebaikan dunia akhirat.

Istiqamah hingga Akhir Ramadhan

Banyak orang bersemangat di awal Ramadhan, tetapi mulai kendor di pertengahan atau akhir bulan. Padahal, justru di sepuluh malam terakhir terdapat Lailatul Qadar. Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Apabila memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Istiqamah adalah kunci keberhasilan sejati. Jangan sampai kita melemah saat pahala justru dilipatgandakan. Jadikan akhir Ramadhan sebagai puncak ibadah, bukan masa penurunan semangat.

Terakhir, Ramadhan adalah tamu agung yang datang setahun sekali. Ia membawa kesempatan emas untuk menghapus dosa, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, kesuksesan Ramadhan tidak datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan niat yang ikhlas, kedisiplinan ibadah, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan istiqamah hingga akhir.

Semoga dengan mengamalkan tujuh kunci sukses ibadah di bulan Ramadhan, kita termasuk golongan yang meraih predikat takwa, mendapatkan ampunan, dan keluar dari Ramadhan dalam keadaan bersih dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan. (*)


Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tetapi juga tentang memperbaiki kualitas shalat. (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network