HIKMAH JUMAT : Menyikapi Fenomena Sandwich Generation Secara Islami

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Dalam pandangan Islam, anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah yang harus dijaga, dididik, dan dipersiapkan akidahnya. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

FENOMENA sandwich generation atau generasi roti lapis kini tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia. Istilah ini merujuk pada kelompok usia produktif yang terjepit oleh dua beban finansial sekaligus, yakni menghidupi keluarga intinya (pasangan dan anak-anak) dan merawat orang tua mereka yang sudah memasuki usia senja.

Akibatnya, banyak generasi muda masa kini yang mengalami kelelahan mental (burnout), depresi, hingga kesulitan untuk membangun aset masa depan mereka sendiri. Bahkan, terdapat beberapa kasus mengambil jalan pintas untuk mengatasi masalah ini.

Jika ditelusuri secara mendalam, fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Salah satu akar masalahnya adalah masih kuatnya paradigma tradisional yang memosisikan anak sebagai "aset investasi masa depan" atau "dana pensiun berjalan".

Pemahaman keliru ini sering kali dibalut dengan dalih agama, di mana penuntutan finansial dari orang tua kepada anak dianggap sebagai syarat mutlak dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua).

Lantas, bagaimana sebenarnya Islam memandang hal ini? Apakah syariat membenarkan orang tua membebani anaknya di luar batas kemampuan?

Sudah saatnya kita membedah masalah ini dari sudut pandang persiapan orang tua, demi memutus rantai sandwich generation yang mencekik generasi penerus kita.

Mengubah Paradigma: Anak Adalah Amanah, Bukan Aset Finansial

Langkah pertama untuk memutus rantai ini adalah dengan meluruskan niat dan pemahaman kita tentang makna kehadiran seorang anak. Dalam budaya kita, pepatah "banyak anak, banyak rezeki" sering kali disalahtafsirkan. Banyak yang mengira bahwa memiliki banyak anak berarti memiliki banyak sumber pendanaan di hari tua nanti.

Dalam pandangan Islam, anak adalah anugerah sekaligus amanah (titipan) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus dijaga, dididik, dan dipersiapkan akidahnya, bukan instrumen asuransi hari tua.

Allah Subhanahu wa Ta'ala secara tegas mengingatkan hal ini dalam Al-Qur'an: "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (ujian) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. Al-Anfal [8]: 28)

Ayat ini menyiratkan bahwa anak adalah ujian keikhlasan. Menuntut balasan materi atas biaya yang telah dikeluarkan orang tua selama membesarkan anak sama halnya dengan merusak nilai keikhlasan tersebut.

Orang tua yang bijak membesarkan anak semata-mata karena kewajiban kepada Allah, dan mengharapkan balasan dari Allah, bukan menagih pengembalian modal dari sang anak.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)

Prinsip Nabi Yusuf: Menyiapkan Bekal di Masa Produktif

Islam adalah agama yang sangat visioner dan mengajarkan kemandirian. Mempersiapkan masa paceklik ketika fisik tidak lagi produktif adalah sebuah keniscayaan.

Al-Qur'an memberikan perumpamaan yang luar biasa cerdas tentang manajemen keuangan jangka panjang melalui kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Saat menafsirkan mimpi Raja Mesir, Nabi Yusuf tidak menyuruh rakyatnya untuk sekadar pasrah. Beliau memerintahkan sebuah strategi ekonomi yang sangat matang:

"Yusuf berkata: 'Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan.'" (QS. Yusuf [12]: 47)

Ayat ini merupakan fondasi dasar dari dana darurat dan dana pensiun dalam Islam. "Tujuh tahun subur" melambangkan masa muda kita yang produktif, sehat, dan bertenaga. Sedangkan "tujuh tahun paceklik" melambangkan masa tua di mana tenaga mulai menurun dan berbagai penyakit mungkin berdatangan.

Seorang Muslim yang bertakwa seharusnya meneladani strategi ini. Selagi masih muda dan berpenghasilan, jangan habiskan seluruh harta untuk gaya hidup yang konsumtif. Sisihkanlah sebagian untuk hari tua. Berinvestasilah, menabunglah, belilah aset produktif.

Tujuannya hanya satu: agar ketika usia senja tiba, kita tidak perlu menengadahkan tangan dan membebani finansial anak-anak kita yang juga sedang berjuang membangun keluarganya.

Menjaga Kehormatan di Usia Senja dengan "Tangan di Atas"

Ada kebanggaan dan kehormatan yang luar biasa ketika seorang Muslim mampu mandiri hingga akhir hayatnya. Islam sangat memuliakan hamba-Nya yang berusaha menjaga diri dari meminta-minta, termasuk meminta kepada anak sendiri jika sang anak nyatanya juga sedang dalam kondisi pas-pasan.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah... Barangsiapa yang menjaga kehormatannya (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan betapa indahnya jika di masa tua, kitalah yang memberi hadiah kepada cucu-cucu kita, bukan sekadar menunggu jatah bulanan dari anak yang mungkin memberikannya dengan susah payah.

Kemandirian finansial orang tua akan melahirkan birrul walidain yang murni. Sang anak akan berbakti, datang berkunjung, memijat, dan merawat orang tuanya dengan penuh cinta tanpa ada perasaan tertekan atau terbebani oleh tuntutan materi.

Jika pun anak ingin memberikan hartanya, biarkan itu keluar dari kerelaan dan kelebihan rezekinya, bukan karena kewajiban yang ditagih layaknya utang piutang.


Bayangkan indahnya jika di masa tua, kitalah yang memberi hadiah kepada cucu-cucu, bukan sekadar menunggu jatah bulanan dari anak. (Foto: Ist)
 

Membangun Generasi Kuat, Bukan Mewariskan Beban

Orang tua sejati tidak akan tega melihat anaknya kesulitan. Memaksa anak untuk menanggung gaya hidup atau utang-utang orang tua sama halnya dengan melemahkan fondasi ekonomi keluarga sang anak.

Padahal, Allah melarang kita meninggalkan generasi yang lemah, baik lemah secara iman maupun ekonomi. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka..." (QS. An-Nisa [4]: 9)

Memutus rantai sandwich generation berarti kita memberi kesempatan kepada anak cucu kita untuk hidup lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih berdaya guna bagi umat.

Jika rantai ini diputus di generasi kita, maka anak kita bisa mengalihkan fokus keuangannya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi cucu kita, berwakaf, bersedekah, dan membangun peradaban Islam yang lebih kuat.

Menjemput Masa Tua yang Ridha dan Diridhai

Menjadi orang tua adalah sebuah perjalanan pengorbanan yang tak bertepi. Namun, pengorbanan itu akan terasa lebih sempurna jika diakhiri dengan kemandirian dan keikhlasan.

Mari ubah pola pikir kita hari ini. Mulailah mengelola keuangan dengan bijak selagi raga masih kuat. Berhentilah menganggap anak sebagai asuransi hari tua, karena beban mereka kelak sudah cukup berat untuk menghadapi zaman yang semakin menantang.

Dengan mempersiapkan masa tua secara mandiri, kita tidak hanya menyelamatkan anak dari jerat sandwich generation, tetapi juga memastikan bahwa bakti mereka kepada kita murni didasari oleh cinta dan ketaatan kepada Allah, bukan karena tekanan keadaan.

Pada akhirnya, orang tua yang bahagia adalah mereka yang bisa tersenyum melihat anak-anaknya terbang bebas menggapai keberkahan dalam hidupnya sendiri. (*)


Mulailah mengelola keuangan dengan bijak selagi raga masih kuat. Berhentilah menganggap anak sebagai asuransi hari tua. (Foto: Ist)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network