Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
DI TENGAH HIRUK-PIKUK kehidupan modern, manusia semakin terobsesi pada produktivitas. Namun ironisnya, semakin jauh dari makna waktu itu sendiri. Kalender penuh, target tercapai, tetapi hati kosong. Kita sibuk mengelola agenda, tetapi gagal mengelola arah hidup.
Di sinilah Islam menawarkan koreksi mendasar, terutama melalui momentum asyhurul hurum (bulan haram atau bulan mulia). Keempat bulan mulia itu akan dimulai hari Sabtu esok yang merupakan hari pertama di bulan Dzulqaidah 1447 H berdasarkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).
Selain Dzulqaidah, bulan mulia lainnya adalah Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Empat bulan ini bukan sekadar penanda waktu, tetapi penanda kesadaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tegas mengingatkan:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu...” (QS. At-Taubah [9]: 36)
Frasa “janganlah kamu menzalimi dirimu” adalah kritik langsung terhadap manusia yang menyia-nyiakan waktu. Dan hari ini, bentuk kezaliman itu semakin kompleks: bukan hanya maksiat konvensional, tetapi juga pemborosan waktu yang sistematis, seperti scroll tanpa tujuan, hiburan tanpa batas, dan kerja tanpa arah spiritual.
Krisis Manajemen Waktu
Kita hidup di era di mana waktu seharusnya lebih mudah diatur dengan teknologi. Namun faktanya, justru semakin sulit dikendalikan. Banyak orang merasa “tidak punya waktu”, padahal yang terjadi adalah salah kelola prioritas.
Baginda Rasulullah SAW telah mengingatkan jauh sebelum era digital: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Hari ini, “tertipu” bukan lagi sekadar lalai, tetapi menjadi gaya hidup. Waktu luang tidak lagi diisi dengan refleksi atau ibadah, tetapi dihabiskan dalam konsumsi tanpa makna.
Bulan-bulan haram seharusnya menjadi alarm keras. Ini adalah waktu di mana standar spiritual dinaikkan: pahala dilipatgandakan, dosa diperberat. Namun, realitasnya? Tidak ada perbedaan signifikan antara bulan haram dan bulan biasa dalam kehidupan sebagian besar umat Islam.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
