PP Presisi Kantongi Kontrak Baru Rp2,9 T Sepanjang 2021, Fokus Jadi Kontraktor Tambang Nikel

Anggie Ariesta
.
Jum'at, 04 Maret 2022 | 09:48 WIB
Raih Kontrak Rp2,9 T di 2021, PP Presisi Fokus Jadi Kontraktor Tambang Nikel (Dok.PPRE)

JAKARTA, iNerwsSerpong.id - PT PP Presisi Tbk (PPRE) mendapatkan konteak baru dari jasa pertambangan sebesar Rp2,9 Triliun sepanjang 2021. Untuk itu perseroan akan focus jadi kontraktor tambang nikel.

PPRE merupakan perusahaan jasa konstruksi terintegrasi berbasis alat berat, telah merambah pada sektor jasa pertambangan sebagai kontraktor sejak awal tahun 2021. 

Direktur Utama PP Presisi, Rully Noviandar mengatakan bahwa hingga Desember 2021, total kontrak baru dari jasa pertambangan yang telah PPRE dapatkan sebesar Rp2,9 triliun. 

Lingkup pekerjaan yang dikerjakan oleh PPRE pada bidang jasa pertambangan sangat komprehensif yakni mulai dari mining development infrastructure seperti pekerjaan pembangunan dan maintenance jalan hauling dan pembangunan infrastruktur tambang lainnya (stockpile, jembatan, dll) hingga pekerjaan mining contractor yakni mulai pengupasan lapisan tanah penutup (overburden) hingga pengangkutan ore nikel (hauling services).

Kontrak-kontrak ini mayoritas berasal dari Weda Bay Nickel sebagai kontraktor mining development dan Tambang Nikel Morowali sebagai mining contractor. 

"Dari Weda Bay Nickel, kami telah mengantongi total Rp1,8 triliun hingga Desember 2021 dan mendapatkan tambahan nilai kontrak baru sebesar Rp311 miliar pada Januari 2022 untuk pekerjaan jasa hauling,” ujar Rully dalam keterangan resminya di keterbukaan informasi BEI, Jumat (4/3/2022).

Seperti yang diketahui, Indonesia merupakan pemilik cadangan dan sumber daya nikel terbesar di dunia. Dengan potensi tersebut, peluang Indonesia akan semakin meningkat dengan naiknya harga nikel yang tembus USD24.940 per ton di bursa perdagangan logam dunia. Harga tersebut hampir mencapai puncak harga tertinggi nikel sejak 2011, yakni USD25.135 per ton. 

Di sisi lain, dorongan dari pemerintah melalui program hilirisasi hasil tambang yang telah berjalan hingga saat ini telah menghasilkan surplus pada neraca perdagangan dimana terdapat lompatan yang sangat signifikan dari ekspor nikel yang dahulu hanya menghasilkan USD2 miliar setahun menjadi USD20,8 miliar setahun. 

Keberhasilan hilirisasi ini akan dilanjutkan juga dengan tambang mineral lainnya seperti bauksit, timah dan tembaga yang cadangannya juga dimiliki oleh Indonesia dengan jumlah yang besar. Kebijakan perluasan hilirisasi tersebut diambil karena pemerintah meyakini bauran energi yang salah satunya melalui Energi Baru Terbarukan (EBT) harus secepatnya dilakukan sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan batubara dan pengurangan dampak karbon. 

Seperti yang juga diketahui, tembaga, bauksit, silika, lithium dan cobalt merupakan sebagian dari jenis metal penting yang akan digunakan dalam teknologi masa depan serta merupakan elemen vital bagi kebangkitan Energi Terbarukan. 

Dengan perolehan kontrak baru pada jasa tambang yang cukup signifikan pada tahun 2021, PPRE optimis dapat memperoleh kontrak baru jasa tambang yang besar juga pada tahun 2022, terutama untuk lingkup pekerjaan mining contractor. Weda Bay Nickel, yang merupakan salah satu tambang nikel terbesar di dunia dengan total produksi per tahunnya mencapai 25 hingga 30 juta ton, tentunya menjadi salah satu incaran PPRE untuk mendapatkan peluang pekerjaan sebagai main contractor.

“Tahun lalu (2021) Weda Bay bekerja dengan 5 kontraktor penambangan untuk mencapai target produksi sebesar 16-20 juta ton. Namun dengan adanya peningkatan target hingga 30 juta ton pertahun, maka Weda Bay juga akan menambah kapasitas kontraktornya. Hal ini tentunya menjadi salah satu peluang besar bagi PPRE untuk dapat berperan, mengingat kami telah terlibat dalam beberapa lingkup pekerjaan pertambangan lainnya di Weda Bay,” tambah Rully. 

Selain Weda Bay, PPRE juga tengah melakukan penjajakan pada beberapa potensi lain untuk tambang nikel maupun mineral lainnya seperti bauksit, silika dan emas baik di wilayah Sulawesi maupun Kalimantan, dengan lingkup pekerjaan mining development maupun mining contractor. Adapun total potensi tersebut dapat mencapai lebih dari Rp5 triliun. 

"Dengan total potensi yang besar tersebut, kami tentunya juga akan meningkatkan kapasitas alat berat kami. Tahun 2021, total belanja modal kami untuk alat berat mencapai Rp336 miliar dan akan kami tingkatkan sebesar 20%. Melalui jasa pertambangan, kami berharap PPRE dapat berperan dalam pemulihan ekonomi Indonesia serta memberikan nilai tambah bagi para stakeholders,” tutup Rully.(*) 

 

 

Editor : A.R Bacho

Follow Berita iNews Serpong di Google News

Bagikan Artikel Ini