Usaha Lapangan Padel Bangkrut! Ada yang Mau Dijual Rp199 Juta, Ada Masih Berminat?
JAKARTA, iNewsSerpong.id - Tren olahraga padel di Indonesia kini tengah dipertanyakan keberlangsungannya. Hal ini bermula dari viralnya unggahan akun X @bardanslm yang memperlihatkan satu set lapangan padel indoor berwarna biru dijual rugi dengan harga Rp199 juta.
Penjual menawarkan paket lengkap termasuk jasa bongkar pasang, yang kemudian memicu spekulasi bahwa demam padel mulai mereda.

Menanggapi fenomena tersebut, banyak netizen berpendapat bahwa biaya yang relatif tinggi membuat olahraga ini sulit bertahan lama di masyarakat luas, sehingga pasarnya kian menyusut.
“Padel ini kan olahraga orang menengah ke atas, bahkan orang atas kebanyakan. Lapangan model gini ya gabakal mau, bentukannya kaya gor bultang kecamatan,” tulis akun X @mashal**.
Ada juga warganet yang justru menyoroti soal lapangan padel tersebut. Ia menilai lapangan yang ada di gambar itu dibuat setengah-setengah sehingga kurang diminati pemain padel yang cenderung kalangan menengah ke atas.
“Invest di lapangan padel tuh jangan nanggung, mending gausah sekalian. Better minsoc, futsal pelan tp awet,” lanjutnya.
Ada juga yang mengatakan bahwa pasar padel saat ini masih ada, namun memang hanya bagi pemain yang serius bukan hanya sekedar mengikuti tren atau fomo. Menurutnya, olahraga ini membutuhkan biaya yang tak sedikit juga, sehingga hanya orang-orang yang menyukainya yang akan bertahan.
“Pasarnya masih ada kok, cuma perlahan-lahan ter-filter untuk yang profesional dan hobi, bukan lagi FOMO,” tulis akun X @sendysan***.
“Padel itu olahraga mahal. Para pemain jelas ingin tampilan lapangan yang estetik sesuai harga yang dibayar,” sambungnya.
Sementara itu, netizen lain juga membandingkan padel dengan badminton yang dinilai jauh lebih terjangkau bagi berbagai kalangan.
“Biaya sewa mainnya susah buat digapai semua golongan. Hanya menengah ke atas aja yang main. Enak juga badminton sih masih terjangkau,” komentar akun @kivay**.
Belakangan, padel memang sempat booming di kalangan anak muda hingga selebritas. Namun, tingginya biaya sewa lapangan hingga perlengkapan bermain disebut menjadi tantangan olahraga ini sulit dijangkau pasar yang lebih luas.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar