HIKMAH JUMAT : Kenapa Hidup Perlu Ujian?
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang.
"BUKANKAH HIDUP akan lebih indah jika tanpa ujian?" Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di benak setiap manusia. Ketika musibah datang bertubi-tubi, doa belum juga terasa dikabulkan, usaha seolah menemui jalan buntu, atau kehilangan orang-orang tercinta, hati pun bertanya, "Ya Allah, mengapa Engkau mengujiku?"
Padahal, jika direnungkan lebih dalam, justru ujian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang mukmin. Tanpa ujian, manusia tidak akan pernah mengetahui kualitas iman yang sesungguhnya.
Sebagaimana emas harus dibakar untuk menunjukkan kemurniannya, demikian pula hati manusia harus diuji agar tampak ketulusan dan keimanannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan bahwa kehidupan dunia memang merupakan arena ujian.
Perhatikan firman-Nya berikut ini: "Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk [67]: 2)
Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah menguji siapa yang paling banyak hartanya, paling tinggi jabatannya, atau paling luas ilmunya. Yang diuji adalah "ahsanu 'amala" yakni siapa yang paling baik amalnya. Artinya, kualitas hidup seseorang bukan diukur dari kenyamanan yang ia miliki, melainkan bagaimana ia bersikap ketika diuji.
Sering kali manusia menganggap ujian sebagai sesuatu yang tidak normal. Padahal, dalam pandangan Islam, justru hidup tanpa ujianlah yang tidak lazim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Perhatikan kata "Kami akan menguji". Kalimat ini menunjukkan kepastian, bukan kemungkinan. Tidak ada manusia yang terbebas dari ujian. Yang membedakan hanyalah bentuk, waktu, dan kadar ujiannya.
Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan penyakit, ada yang diuji dengan kesehatan. Ada yang diuji dengan kesendirian, ada pula yang diuji dengan keluarga yang ramai. Bahkan kesuksesan pun bisa menjadi ujian yang lebih berat daripada kegagalan.

Sebagian orang bertanya, "Kalau Allah mencintai hamba-Nya, mengapa Dia masih memberikan ujian?" Jawabannya dijelaskan oleh Baginda Rasulullah SAW:
"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya semakin berat. Jika agamanya lemah, maka ia diuji sesuai kadar agamanya." (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini mengubah cara pandang kita terhadap musibah. Beratnya ujian bukan selalu pertanda murka Allah. Bisa jadi justru itu adalah tanda bahwa Allah sedang meninggikan derajat seorang hamba. Lihatlah para kekasih Allah, mereka saja diuji, mengapa kita berharap hidup selalu mulus?
Bukankah Nabi Ayyub 'alaihissalam diuji dengan penyakit yang sangat lama? Nabi Ya'qub 'alaihissalam diuji dengan kehilangan putra tercinta hingga matanya memutih karena menangis.
Nabi Yusuf 'alaihissalam diuji dengan pengkhianatan saudara-saudaranya, fitnah, dan penjara. Bahkan Baginda Rasulullah SAW kehilangan ayah sebelum lahir, ibu saat kecil, kakek, paman tercinta, istri tercinta Khadijah RA, serta beberapa putra-putrinya.
Di balik setiap kesulitan, terdapat kasih sayang Allah yang sering kali tidak kita sadari. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa luar biasanya rahmat Allah. Bahkan rasa sakit akibat tertusuk duri pun dapat menjadi sebab penghapusan dosa, apalagi musibah yang lebih besar jika dihadapi dengan sabar dan ridha.
Tidak sedikit orang yang justru semakin dekat kepada Allah setelah mengalami musibah. Sebaliknya, banyak pula yang lalai ketika hidupnya dipenuhi kenyamanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Dan sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (QS. Al-An'am [6]: 42)
Musibah sering kali menjadi "alarm langit" yang membangunkan manusia dari kelalaiannya. Ketika semua pintu dunia terasa tertutup, saat itulah manusia mulai mengetuk pintu langit dengan doa yang tulus.

Kesalahan yang sering dilakukan adalah mengukur kebahagiaan berdasarkan sedikit atau banyaknya ujian. Padahal ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah bebas dari masalah, tetapi mampu tetap taat di tengah masalah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh [94]: 5–6)
Pengulangan ayat ini bukan tanpa hikmah. Para ulama menjelaskan bahwa satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan yang Allah janjikan. Karena itu, tidak ada malam yang selamanya gelap. Tidak ada hujan yang turun tanpa berhenti. Tidak ada luka yang tidak bisa sembuh jika Allah menghendaki.
Islam mengajarkan tiga sikap utama ketika menghadapi ujian. Pertama, bersabar, yaitu menahan hati dari protes kepada takdir Allah, menjaga lisan dari keluhan yang melampaui batas, dan menjaga anggota tubuh dari perbuatan yang dimurkai-Nya.
Kedua, bertawakal, yakni terus berusaha sembari menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, melainkan menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah semata.
Ketiga, berhusnuzan kepada Allah. Seorang mukmin yakin bahwa di balik setiap ketentuan Allah terdapat hikmah, meskipun saat ini ia belum mampu memahaminya. Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. Dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang bagaimana menghindari ujian, tetapi bagaimana lulus darinya. Mungkin hari ini kita sedang diuji dengan kesedihan, kegagalan, kehilangan, atau ketidakpastian. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita.
Bisa jadi justru saat itulah Allah sedang paling dekat, sedang membersihkan dosa, menguatkan iman, mengangkat derajat, dan menyiapkan kebaikan yang belum sanggup kita lihat. Dunia hanyalah ruang ujian, sedangkan akhirat adalah tempat menerima hasilnya.
Ujian bukanlah tanda bahwa Allah berhenti mencintai kita. Sering kali, ujian justru merupakan cara Allah mendidik, memurnikan, dan mempersiapkan hamba-Nya untuk memperoleh kemuliaan yang tidak mungkin diraih tanpa kesabaran. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid