Ini Faktanya! Abu Vulkanik Bisa Sebabkan Kanker?
JAKARTA, iNewsSerpong.id – Bahaya abu vulkanik akibat erupsi gunung api kembali menjadi perhatian.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie menyebut abu vulkanik dapat mengandung silika yang berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk meningkatkan risiko kanker.
Lantas, benarkah abu vulkanik bisa menyebabkan kanker?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Abu vulkanik tidak otomatis menyebabkan kanker hanya karena seseorang menghirupnya.
Namun, beberapa jenis abu vulkanik memang dapat mengandung respirable crystalline silica, yakni silika kristalin berukuran sangat kecil yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru.
Stella menjelaskan partikel abu vulkanik berukuran sangat halus sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan.
“Kalau kita lihat secara scientific, apa sih bahayanya (abu vulkanik)? Volcanic ash atau debu vulkanik ini kan lebih halus daripada bedak bayi. Dan di dalam situ ada silika,” ujar Stella di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Meski demikian, Stella meminta masyarakat tidak panik karena penjelasan tersebut merupakan gambaran mengenai potensi bahaya secara ilmiah.
Secara medis, kekhawatiran kanker terutama berkaitan dengan paparan respirable crystalline silica dalam konsentrasi tinggi dan jangka panjang.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) di bawah WHO mengklasifikasikan silika kristalin jenis quartz dan cristobalite yang terhirup dari sumber pekerjaan sebagai karsinogen bagi manusia.
Paparan jangka panjang juga diketahui dapat menyebabkan silikosis dan meningkatkan risiko kanker paru.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti seseorang yang menghirup abu vulkanik sekali atau dalam waktu singkat akan langsung terkena kanker.
Risiko dipengaruhi jenis abu, kandungan silika, ukuran partikel, konsentrasi, frekuensi, serta lama paparan.
Dalam jangka pendek, abu vulkanik lebih sering menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan serta dapat memperburuk asma atau penyakit paru yang sudah dimiliki.
Karena itu, masyarakat tetap dianjurkan mengurangi paparan abu. Saat hujan abu pekat, sebaiknya berada di dalam ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, seperti respirator N95, jika harus beraktivitas di luar.
Dengan demikian, abu vulkanik memang memiliki potensi risiko kesehatan, tetapi bukan berarti setiap orang yang menghirupnya akan terkena kanker. Risiko kanker lebih berkaitan dengan paparan silika kristalin yang tinggi dan berlangsung lama. (*)
Editor: Syahrir Rasyid