JAKARTA, iNewsSerpong.id - Wacana penghapusan katering bagi jamaah haji Indonesia akan menimbulkan masalah baru, karena jamaah akan dibebani pekerjaan mencari makan sehingga kekhusyukan ibadah haji menjadi terganggu.
Demikian penilaian dari Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PP IPHI) H. Ismed Hasan Putro.
Sekarang tinggal dihitung, menurut Ismed, mana yang paling besar risikonya jika memang solusi untuk melakukan penghematan biaya haji itu dengan menghilangkan katering itu cukup meringankan beban jamaah secara umum.
"Hal itu bisa menjadi pertimbangan bagi anggota dewan (DPR) dan Kementerian Agama untuk membuat keputusan," kata Ismed, akhir pekan kemarin.
Wacana ini muncul sejalan dengan biaya haji yang meningkat dua kali lipat dengan alasan adanya kenaikan di berbagai aspek.
Besarnya kenaikan biaya haji tahun 1444 H/2023 M diusulkan sekitar Rp69 juta. Angka ini merupakan 70 persen dari nilai rata-rata Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar Rp98 juta.
Publik keberatan, sehingga muncul wacana penghapusan catering. Ada juga yang mengusulkan perjalanan haji dikurangi dari 40 hari menjadi 35 hari saja.
Berdasarkan informasi yang diterima, menurut Ismed, ada sekitar 62 ribu orang jamaah haji lanjut usia (lansia) yang membutuhkan perhatian khusus. Sementara total kuota haji Indonesia tahun ini 221 ribu orang, 203.320 jamaah haji reguler, dan 17.680 jamaah haji khusus.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PP IPHI) H. Ismed Hasan Putro. (Foto : Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
