Rupiah Hari Ini Menguat, Dolar AS Stagnan Usai Beri Sanki Rusia

Dinar Fitra Maghiszha
Rupiah Hari Ini Perkasa, Dolar AS Stagnan Pasca-Sanksi Rusia. (Foto: MNC Media)

JAKARTA, iNewsSerpong.id  - Pergolakan yang terjadi di Eropa Timur sukses mendorong nilai tukar rupiah perkasa atas dolar AS hari ini. Sampai dengan pukul 09:17 WIB, mata uang Garuda naik 12 poin atau 0,08% di Rp14.354 per USD1.

Pasar uang di kawasan Asia Pasifik bergerak mixed atas dolar AS, seperti Dolar Hong Kong terpuruk -0,02% di 7,8031, Won Korea Selatan naik 0,14% di 1.191,39, dan Ringgit Malaysia tertekan -0,04% di 4,1855.

Peso Filipina longsor -0,07% di 51,355, Dolar Taiwan terjatuh -0,08% di 27,875, Baht Thailand naik 0,02% di 32,415, Dolar Singapura melesat 0,03% di 1,3448, dan Yuan China koreksi -0,07% di 6,3306. Sementara itu Yen Jepang naik 0,02% di 115,06 dan Dolar Australia menguat 0,20% di 0,7233,

Indeks dolar memulai pagi ini dengan stagnasi 0,00% di 96,02, dan berpotensi mengalami pelemahan menyusul perkembangan situasi geopolitik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina.

Seperti diketahui, Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui dua wilayah yang memisahkan diri dari Ukraina sebagai wilayah merdeka, dan memerintahkan pasukannya ke daerah tersebut.

Kremlin mengatakan pihaknya tetap terbuka untuk melakukan diplomasi dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain sejalan dengan sejumlah sorotan

Inggris telah menerbitkan deretan sanksi, sementara Jerman membekukan proyek pipa gas Laut Baltik Nord Stream 2, yang akan secara signifikan meningkatkan aliran gas Rusia.

Dolar dinilai masih akan bergerak melemah merespons berita Presiden AS Joe Biden yang mengumumkan gelombang pertama sanksi terhadap Rusia sambil mengatakan bahwa diplomasi masih terbuka.

"Putin melakukan pertunjukan di sini, tetapi pasar tidak merespons seolah-olah mereka benar-benar takut bahwa apa yang terjadi adalah eskalasi besar yang bisa menghancurkan ekonomi, atau setidaknya akan menghancurkan pemulihan global," kata Analis Senior FXStreet.com, Joseph Trevisani, dilansir Reuters, Rabu (23/2/2022).

Dolar sebelumnya menguat setelah data dari IHS Markit menunjukkan aktivitas bisnis A.S. pada Februari mengalami kenaikan karena mulai redanya hambatan atas lonjakan kasus Covid-19 selama musim dingin.

Namun, data lain menunjukkan kepercayaan konsumen AS turun selama dua bulan berturut-turut di bulan Februari.

"Konflik Rusia Ukraina masih terbuka, dan pasar mengetahuinya, mereka tidak melihatnya sebagai hal besar yang akan mengubah situasi," pungkas Joseph.(*)

 

Editor : A.R Bacho

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network