HIKMAH JUMAT : Rahasia Kekuatan Shalat Lima Waktu dalam Membentuk Jiwa Tangguh

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Shalat merupakan kewajiban utama dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat istimewa.(Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

SAAT INI kita tengah berada di bulan Rajab. Rajab adalah bulan shalat. Di bulan Rajab inilah shalat lima waktu sehari semalam diwajibkan bagi umat Islam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui peristiwa Isra dan Mikrajnya Nabi Muhammad SAW.

Shalat merupakan kewajiban utama dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat istimewa. Ia bukan sekadar ritual ibadah yang dilakukan secara rutin, tetapi juga sumber kekuatan spiritual yang mampu membentuk kepribadian dan jiwa seorang muslim.

Dengan shalat seorang muslim dapat menjadi pribadi yang tangguh, sabar, dan tegar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Di tengah tantangan zaman modern yang penuh tekanan, shalat hadir sebagai penopang utama iman dan penyejuk hati.

Shalat sebagai fondasi kehidupan bagi seorang muslim. Oleh karenanya tidak heran jika di dalam Al-Qur’an maupun hadits banyak dijumpai bahasan tentang kewajiban shalat lima waktu atau hal-hal lainnya yang terkait dengan shalat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kewajiban shalat dalam banyak ayat Al-Qur’an. Salah satu ayat yang paling dikenal adalah: “Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan Allah, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam membentuk akhlak dan perilaku. Orang yang menjaga shalat dengan baik akan memiliki kontrol diri yang kuat, sehingga mampu menahan diri dari perbuatan tercela.

Baginda Rasulullah SAW juga mengingatkan terkait dengan kewajiban shalat lima waktu, bahkan beliau menyebutkan bahwa pembeda antara orang muslim dengan orang kafir adalah shalat.

Perhatikan sabda Baginda Rasulullah SAW berikut ini: “Perjanjian antara kami dengan orang kafir adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Sebagai fondasi kehidupan bagi seorang muslim, shalat mengatur ritme harian, mendisiplinkan waktu, dan mengingatkan manusia bahwa di tengah kesibukan dunia, ada kewajiban utama yang tidak boleh dilalaikan apalagi ditinggalkan.

Selain itu, dalam kehidupan setiap manusia pasti menghadapi masalah, seperti kesedihan, dan tekanan batin. Islam mengajarkan bahwa shalat adalah tempat terbaik untuk mengadu dan memohon pertolongan kepada Allah.

Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

Ayat ini menegaskan bahwa shalat adalah sarana pertolongan ilahi. Ketika seseorang berdiri dalam shalat, ia melepaskan beban duniawi dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Dari sinilah lahir ketenangan batin dan kekuatan mental yang menjadikan seorang muslim mampu menghadapi cobaan dengan lebih lapang dada. Baginda Rasulullah SAW pun mencontohkan hal ini.

Baginda Rasulullah SAW ketika menghadapi kesulitan, menjadikan shalat sebagai solusi pertamanya, bukan pilihan terakhir. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa: “Apabila Rasulullah ditimpa suatu perkara yang menyedihkan, beliau segera melaksanakan shalat.” (HR. Abu Dawud)

Selanjutnya, shalat lima waktu memiliki waktu-waktu tertentu yang tidak boleh dilanggar. Hal ini melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Seorang Muslim yang menjaga shalatnya akan terbiasa menghargai waktu dan komitmen.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa [4]: 103)

Kedisiplinan dalam shalat secara perlahan membentuk karakter yang kuat. Orang yang disiplin dalam ibadah akan lebih mudah disiplin dalam urusan dunia, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun tanggung jawab sosial.

Shalat juga mampu membentuk ketangguhan mental. Ketangguhan mental adalah kemampuan untuk tetap tegar di tengah tekanan dan tidak mudah putus asa. Shalat melatih hal ini melalui kesabaran, kekhusyukan, dan penghambaan total kepada Allah.

Dalam shalat, seorang muslim diajarkan untuk tunduk, sujud, dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan pengakuan kelemahan inilah muncul kekuatan sejati.

Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersabda: “Shalat adalah cahaya.” Cahaya di sini bukan hanya bermakna pahala, tetapi juga cahaya hati yang menerangi jalan hidup.

Orang yang hatinya terang akan lebih kuat menghadapi kegelapan masalah dan tidak mudah terjerumus dalam keputusasaan. Hubungannya kuat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai kunci utama ketangguhan jiwanya.

Shalat merupakan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dan Rabb-nya. Dalam setiap rakaat, seorang muslim membaca doa, pujian, dan permohonan ampun. Baginda Rasulullah SAW bersabda:

“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim)


shalat bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan Allah, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam membentuk akhlak dan perilaku. (Foto: Ist)
 

Kedekatan ini memberikan rasa aman dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya. Keyakinan inilah yang membuat seorang muslim tidak mudah goyah meskipun menghadapi masalah besar.

Shalat yang benar dan khusyuk akan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Shalat membentuk akhlak yang lembut, sabar, dan penuh empati. Baginda Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan shalat lima waktu seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran pada dirinya?”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat membersihkan dosa dan hati, sebagaimana air membersihkan kotoran. Hati yang bersih akan melahirkan jiwa yang kuat dan akhlak yang baik.

Namun sayangnya di era modern ini, banyak orang yang lalai dari shalat karena kesibukan dunia. Padahal justru di masa penuh tekanan inilah shalat sangat dibutuhkan. Menjaga shalat tepat waktu dan berusaha khusyuk adalah investasi besar bagi kekuatan jiwa.

Oleh karenanya, Allah mengingatkan agar shalat tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga dihayati maknanya. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) yang lalai terhadap shalatnya.” (QS. Al-Ma’un [107]: 4–5)

Di tengah kehidupan yang penuh tantangan seperti saat ini, shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan. Ia adalah sumber energi spiritual yang menjaga iman tetap hidup dan hati tetap kuat.

Shalat lima waktu menyimpan rahasia kekuatan luar biasa dalam membentuk jiwa yang tangguh. Ia menanamkan disiplin, ketenangan, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mari jadikan bulan Rajab ini sebagai momentum bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas shalat. Melalui shalat, kita belajar untuk berserah diri tanpa kehilangan semangat, dan tegar tanpa menjadi sombong.

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang mampu meningkatkan kualitas serta menjaga shalatnya, dan merasakan kekuatan besar sebagai hikmah di balik kewajiban shalat lima waktu. Aamiin. (*)


Shalat yang benar dan khusyuk akan tercermin dalam perilaku sehari-hari. (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network