JAKARTA, iNewsSerpong.id - Denny JA memutuskan untuk mendonasikan seluruh dana yang diterimanya dari BRICS Literature Award 2025 guna mendukung perkembangan sastra dunia melalui Denny JA Foundation.
Pengumuman ini disampaikan di tengah suasana khidmat peresmian BRICS Literature Award yang pertama kali diselenggarakan pada akhir Januari 2026 di Kairo, Mesir.
Kota Kairo dipilih bukan tanpa alasan, sebab di sanalah peradaban pertama kali mengukir tulisan sebagai upaya melawan lupa dan membuktikan bahwa makna memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada kekuasaan.
Prosesi penyerahan penghargaan berlangsung pada hari Sabtu di Hall Internasional Pameran Buku Internasional Kairo.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran petinggi organisasi sastra internasional, termasuk Aleksander Okstovich selaku Direktur Eksekutif Penghargaan BRICS, Vadim Terekhin sebagai Direktur Eksekutif BRICS Literature Network, serta Douha Mostafa yang menjabat sebagai Koordinator BRICS Mesir.
Penghargaan perdana ini diberikan kepada dua tokoh sastra setelah melalui proses seleksi berlapis yang melibatkan dewan juri profesional lintas benua. Perjalanan kurasi dimulai dari pengumuman daftar panjang di Brasil, berlanjut ke daftar pendek di Jakarta, hingga akhirnya mencapai puncaknya di Rusia.
Salwa Bakr, sastrawan terkemuka asal Mesir yang dikenal lewat karya-karya berani mengenai realitas sosial, terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan utama.
Sementara itu, Denny JA dianugerahi penghargaan khusus untuk kategori inovasi di bidang sastra.
Vadim Terekhin dalam sambutannya menekankan bahwa penganugerahan ini merupakan sinyal kuat bahwa sastra negara-negara BRICS adalah bagian tak terpisahkan dari budaya global. Ia berharap penghargaan bagi Salwa Bakr dan Denny JA ini menjadi langkah awal bagi pengakuan yang lebih luas di kancah internasional, terutama dengan rencana penerjemahan karya para pemenang ke dalam sepuluh bahasa berbeda.
Sosok Denny JA sendiri memiliki latar belakang yang unik karena ia dikenal sebagai konsultan politik yang sukses memenangkan lima pemilihan presiden berturut-turut dengan kekayaan yang sangat besar.
Namun, di balik angka dan pengaruh politiknya, ia memilih menekuni sastra sebagai jalan pengabdian jangka panjang.
Melalui penciptaan genre puisi esai, ia berhasil menyatukan riset faktual dengan empati kemanusiaan, bahkan genre ini telah berkembang hingga ke tingkat regional melalui Festival Puisi Esai ASEAN.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
