Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
BULAN RAMADHAN adalah bulan yang sangat istimewa dalam kehidupan seorang Muslim. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Di antara keistimewaan Ramadhan, ada satu dimensi ruhiyah yang sering kali kurang kita maksimalkan, yaitu Ramadhan sebagai bulan doa. Bulan ketika setiap hamba memiliki kesempatan yang luas untuk mengetuk pintu langit (rahmat) Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Menariknya, ayat ini berada di tengah-tengah pembahasan tentang puasa Ramadhan dalam Surah Al-Baqarah. Seolah-olah Allah ingin menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk berdoa, karena saat itulah hati sedang lembut, jiwa sedang bersih, dan ketaatan sedang meningkat.
Ramadhan dan Kedekatan dengan Allah
Puasa melatih kita untuk menundukkan hawa nafsu. Ketika perut lapar dan tenggorokan kering, jiwa menjadi lebih peka. Dalam kondisi seperti ini, doa menjadi lebih khusyuk dan penuh pengharapan.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ibnu Majah) Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang berpuasa memiliki keistimewaan dalam doanya.
Setiap detik dalam Ramadhan adalah kesempatan emas untuk melangitkan harapan kepada Allah. Terlebih lagi ketika menjelang berbuka puasa, sebuah waktu yang sangat mustajab.
Sebagaimana sabda Baginda Rasulullah SAW:“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, pada saat berbuka ada doa yang tidak akan ditolak.” (HR. Ibnu Majah)
Betapa sering kita sibuk menyiapkan hidangan berbuka, tetapi lalai menyiapkan doa-doa terbaik kita. Padahal mungkin satu doa yang tulus di saat berbuka dapat mengubah hidup kita selamanya.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
