Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
BULAN SYA’BAN adalah salah satu bulan yang sering kali terlewatkan maknanya oleh sebagian kaum muslimin. Di tengah masyarakat, Sya’ban kerap dipahami sebagai bulan “pemanasan” sebelum Ramadhan.
Pemahaman tersebut tidaklah salah. Namun, dalam praktiknya sering disalahartikan oleh sebagian umat Islam. Banyak yang beranggapan bulan Sya’ban sebagai bulan untuk memperbanyak makan, pesta, dan berbagai acara konsumtif lainnya.
Tidak jarang kita jumpai tradisi makan-makan besar, hajatan berlebihan, hingga gaya hidup boros dengan alasan “mumpung belum puasa”. Sehingga ketika bulan Sya’ban datang agenda kegiatan pun penuh dengan agenda “munggahan”.
“Munggahan” adalah tradisi di masyarakat yang biasanya diisi dengan makan-makan menjelang datangnya bulan Ramadhan. Selama tidak berlebihan, wajar-wajar saja, tidak ada salahnya dengan agenda “munggahan” itu.
Namun, agenda “munggahan” akan jadi masalah ketika kita sebagai umat Islam justru melupakan agenda amal ibadah yang sangat luar biasa yang sebaiknya kita lakukan di bulan Sya’ban. Jangan sampai Sya’ban berlalu tanpa amal berarti untuk Ramadhan.
Jika ditelaah dari perspektif Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, Sya’ban justru merupakan bulan ibadah, persiapan ruhiyah, dan peningkatan amal, bukan bulan makan-makan, bermewah-mewahan, dan cenderung menjadi sumber pemborosan.
Secara bahasa, Sya’ban berasal dari kata sya’aba yang berarti “berpencar” atau “tersebar”. Para ulama menjelaskan bahwa pada bulan ini, amal-amal manusia diangkat dan tersebar untuk dilaporkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban memiliki kedudukan penting dalam siklus ibadah tahunan seorang muslim. Oleh karenanya, Baginda Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban.
Bahkan, ibadah beliau di bulan ini terlihat lebih intens dibandingkan bulan-bulan lainnya, kecuali Ramadhan. Hal ini menjadi isyarat kuat bahwa Sya’ban adalah bulan persiapan spiritual, bukan bulan untuk menuruti hawa nafsu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah takwa, dan Sya’ban adalah jembatan penting untuk mempersiapkan diri menuju tujuan tersebut.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)
Dalam sebuah hadits dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau banyak berpuasa pada bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Hadits ini sangat jelas menegaskan bahwa bulan Sya’ban memang bulan yang sering dilalaikan manusia. Padahal, pada bulan Sya’banlah diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, Baginda Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban.
Jika Rasulullah SAW saja menyambut Sya’ban dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, maka sungguh keliru jika umatnya justru mengisinya dengan pesta dan berlebihan dalam makan.
Fenomena “Makan-Makan” di Bulan Sya’ban
Di berbagai daerah, bulan Sya’ban identik dengan tradisi makan bersama, kenduri, atau acara syukuran besar. Pada dasarnya, makan bersama dan bersedekah adalah perbuatan baik. Namun, masalah muncul ketika niat ibadah tergeser oleh ajang pamer.
Selain itu, terjadi pula pemborosan dan israf (berlebih-lebihan), sehingga banyak makanan yang terbuang sia-sia, terlebih lagi jika terdapat maksiat dan kelalaian menyertai dalam acara tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas melarang sikap berlebih-lebihan, sebagaimana firman-Nya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)
Ayat ini berlaku sepanjang waktu, terlebih lagi di bulan Sya’ban yang seharusnya menjadi momentum pengendalian diri, bukan pelampiasan nafsu. Sya’ban sebagai bulan latihan menahan nafsu, bukan mengumbar nafsu.
Oleh karenanya, puasa yang dianjurkan di bulan Sya’ban memiliki hikmah besar. Selain mengikuti sunnah Nabi SAW, puasa Sya’ban juga berfungsi sebagai latihan fisik dan mental sebelum Ramadhan.
Orang yang terbiasa berpuasa di Sya’ban akan lebih siap menyambut Ramadhan dengan jiwa yang tenang dan tubuh yang sudah terlatih. Ibunda Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Rasulullah SAW biasa berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan beliau biasa berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tradisi buka puasa bersama di Masjid Istiqlal. Orang yang terbiasa berpuasa di Sya’ban akan lebih siap menyambut Ramadhan dengan jiwa yang tenang dan tubuh yang sudah terlatih. (Foto: Ist)
Hadits ini menjadi dalil kuat bahwa Sya’ban adalah bulan latihan serius, bukan bulan bersantai. Bulan yang merupakan kesempatan terakhir bagi kita untuk mempersiapkan diri lebih matang lagi menghadapi bulan suci Ramadhan.
Alih-alih menjadikan Sya’ban sebagai bulan makan-makan, Islam justru mengajarkan beberapa amalan utama yang seharusnya dihidupkan. Memperbanyak puasa sunnah adalah amalan yang paling dianjurkan.
Bagi yang belum terbiasa puasa sunnah, maka cobalah puasa Senin Kamis selama bulan Sya’ban, bagi yang sudah terbiasa mungkin bisa ditambah dengan puasa sunnah ayamul bidh pada tanggal 13, 14, 15 Sya’ban.
Bagi yang sudah terbiasa dengan dua amalan puasa sunnah di atas, mungkin bisa mencoba dengan puasa Nabi Daud. Jika itu pun sudah biasa dilakukan, maka tidak ada salahnya mencoba puasa setiap hari hingga satu hari sebelum datangnya bulan Ramadhan.
Selain itu, perbanyaklah istighfar dan taubat di bulan Sya’ban sebagai upaya membersihkan hati dan jiwa dari berbagai dosa, agar ketika Ramadhan datang, dosa kita sudah berkurang.
Para salafus shalih menjadikan bulan Sya’ban sebagai bulan mempersiapkan diri dengan Al-Qur’an agar Ramadhan benar-benar produktif. Tadarus akan berasa nikmat jika sudah terbiasa dan dibiasakan untuk membaca dan mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an.
Dan, jangan lupa bagi siapa saja di antara kita atau keluarga kita yang mempunyai hutang puasa Ramadhan di tahun lalu, maka bulan Sya’ban adalah kesempatan terakhir untuk membayarnya. Jangan ditunda-tunda lagi, karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok.
Amalan-amalan di atas, adalah amalan-amalan yang jauh lebih utama daripada sekedar menghabiskan bulan Sya’ban dengan kegiatan makan-makan. Karena bulan Sya’ban adalah bulan persiapan, muhasabah, dan peningkatan kualitas ibadah jelang Ramadhan.
Sudah sepatutnya kita mengembalikan makna Sya’ban sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, agar Ramadhan yang kita masuki bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum perubahan menuju takwa yang hakiki.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita taufik untuk menghidupkan bulan Sya’ban dengan amal terbaik dan mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan iman dan istiqamah. Aamiin. (*)
Sya’ban sebagai bulan mempersiapkan diri dengan Al-Qur’an agar Ramadhan benar-benar produktif. Tadarus akan berasa nikmat jika sudah terbiasa. (Foto: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
