Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
RAMADHAN telah berlalu. Masjid yang sebelumnya penuh kini mulai renggang. Al-Qur’an yang sempat akrab setiap hari kembali tersimpan di rak dengan rapi. Air mata taubat yang mengalir di malam-malam terakhir Ramadhan, seakan mengering bersama berakhirnya bulan suci.
Inilah realitas yang sering terjadi. Padahal, justru setelah Ramadhanlah ujian keimanan yang sebenarnya dimulai: mampukah kita menjaga istiqamah? Istiqamah bukan sekadar semangat sesaat, melainkan komitmen jangka panjang dalam ketaatan kepada Allah.
Ramadhan hanyalah “madrasah ruhiyah” yang melatih kita agar kuat menjalani 11 bulan berikutnya. Masa yang sangat panjang untuk membuktikan kemampuan yang kita dapatkan dari pelatihan di madrasah Ramadhan.
Makna Istiqamah dalam Islam
Istiqamah berarti teguh di atas jalan yang lurus, konsisten dalam kebaikan, dan tidak menyimpang meskipun godaan datang silih berganti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu…” (QS. Hud [11]: 112)
Ayat ini menunjukkan bahwa istiqamah adalah perintah langsung dari Allah, bahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Artinya, menjaga konsistensi dalam kebaikan bukan perkara mudah, bahkan bagi manusia terbaik sekalipun.
Dalam ayat lain, Allah menjanjikan keutamaan besar bagi orang yang istiqamah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 13)
Tidak mudah memang, tetapi berita baiknya adalah bahwa istiqamah bukan hanya sekedar membawa ketenangan di dunia, tetapi juga keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Tanda Diterimanya Amal Ramadhan
Para ulama menyebutkan bahwa salah satu tanda diterimanya amal ibadah di bulan Ramadhan adalah keberlanjutan amal tersebut setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang tetap rajin shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan menjaga lisannya, itu adalah indikasi kebaikan.
Sebaliknya, jika seseorang kembali kepada kebiasaan buruk, meninggalkan ibadah, dan lalai dari Allah, maka itu menjadi tanda bahwa Ramadhan belum benar-benar membekas dalam dirinya.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi prinsip utama dalam menjaga istiqamah: bukan banyaknya amal, tetapi konsistensinya.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
