HIKMAH JUMAT : Dzulhijjah, Saat Dunia Mengajarkan Memiliki, Islam Mengajarkan Melepaskan

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Sejatinya, qurban adalah latihan melepaskan. Melepaskan sebagian harta untuk orang lain. Melepaskan ego yang selalu ingin dipuji. Melepaskan sifat kikir yang bersemayam dalam hati. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

DI TENGAH ZAMAN yang mengukur kesuksesan dengan seberapa banyak yang dimiliki, Islam menghadirkan sebuah pelajaran yang tampak paradoks: semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin siap ia melepaskan apa yang dicintainya.

Pesan ini terasa sangat kuat pada bulan Dzulhijjah. Bulan yang tidak hanya identik dengan ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban, tetapi juga menjadi momentum untuk menguji sejauh mana manusia mampu menempatkan Allah di atas segala-galanya.

Kita hidup dalam era yang mendorong manusia untuk terus mengumpulkan. Mengumpulkan harta, pengikut media sosial, jabatan, popularitas, bahkan pengakuan.

Tidak ada yang salah dengan bekerja keras dan meraih prestasi. Namun masalah muncul ketika apa yang kita miliki justru mulai memiliki kita. Di sinilah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi sangat relevan.

Ketika Cinta Diuji

Nabi Ibrahim adalah sosok yang telah lama mendambakan keturunan. Bertahun-tahun beliau menunggu hingga akhirnya Allah menganugerahkan seorang putra, Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Namun justru ketika cinta itu tumbuh begitu besar, Allah memerintahkan sesuatu yang sangat berat: mengorbankan anak yang dicintainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!'

Ia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Perintah itu bukan sekadar tentang penyembelihan. Ia adalah ujian tentang posisi Allah dalam hati seorang hamba. Apakah Allah masih menjadi yang paling dicintai? Ataukah cinta kepada makhluk telah mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Sang Khalik?

Pertanyaan yang sama sesungguhnya sedang ditujukan kepada kita hari ini.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network