Gus Lilur Minta Mata Rantai Pelaksana Program Makan Bergizi Gratis Diperpendek

Vitrianda Hilba Siregar
Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy(Gus Lilur). Foto: Ist

JAKARTA, iNewsSerpong.id - Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy yang akrab disapa Gus Lilur, menyoroti ancaman serius yang kini membayangi program mulia pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, gagasan besar ini berisiko menjadi beban moral dan politik akibat masalah di lapangan, mulai dari manajemen dapur yang asal-asalan, kasus keracunan siswa di sejumlah daerah, menu tak sesuai standar, hingga dugaan praktik pungutan liar atau pungli (fee) dan pemotongan anggaran.

Gus Lilur menegaskan bahwa MBG seharusnya menjadi wujud kasih negara untuk anak-anak miskin. Namun, idealisme ini dirusak oleh para "copet" anggaran.

Dia mengutip Al-Qur’an Surat Al-Insan ayat 8 untuk mengingatkan bahwa memberi makan orang miskin dan anak yatim haruslah dengan hidangan yang baik dan disukai, bukan yang jatahnya dipotong.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, alokasi makanan yang seharusnya bernilai Rp10.000 per porsi diduga dipotong antara Rp500 hingga Rp3.000 oleh oknum tertentu, sehingga nilai makanan yang diterima anak-anak menyusut hingga tersisa Rp7.000.

Selain masalah anggaran, Gus Lilur juga menyoroti keterlibatan pihak ketiga dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memicu struktur bisnis berorientasi untung, seperti biaya sewa dan lisensi yang membebani sistem.

Masalah higienitas dapur yang rendah dan pengawasan yang longgar dinilai menjadi pemicu utama kasus keracunan yang membuat anak-anak harus dirawat medis. Ia menekankan bahwa kesalahan bukan pada program MBG, melainkan pada aplikasinya di tingkat bawah.

Sebagai solusi konkret, Gus Lilur mendesak pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membangun dan mengelola SPPG secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak ketiga. Ia juga mengusulkan model pengelolaan berbasis dapur dan kantin sekolah yang melibatkan kepala sekolah, komite, puskesmas, dan ahli gizi.

Model ini dinilai memperpendek rantai kendali, mempermudah pengawasan, dan memastikan makanan disajikan lebih segar. NBI yang mendukung penuh MBG berharap Presiden Prabowo mendapat informasi jujur agar program raksasa ini bisa diselamatkan dari pemburu rente.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network