HIKMAH JUMAT : Muharram Mengetuk Pintu Hati: Masih Adakah Ruang untuk Hijrah?

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Muharram seharusnya menjadi momen muhasabah. Sudahkah shalat kita lebih baik dibanding tahun lalu? Sudahkah Al-Qur'an lebih sering kita baca? (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

MUHARRAM KEMBALI HADIR. Tahun Hijriyah berganti, lembaran waktu terus berjalan, dan usia kita semakin berkurang. Pergantian tahun ini bukan sekadar perubahan angka dalam kalender Islam, melainkan momentum untuk berhenti sejenak, merenung, dan bertanya kepada diri sendiri: masihkah ada ruang di hati kita untuk berhijrah?

Banyak orang menyambut tahun baru dengan harapan dan resolusi. Namun bagi seorang Muslim, Muharram membawa pesan yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa hidup di dunia hanyalah perjalanan sementara.

Setiap tahun yang berlalu adalah satu langkah yang membawa kita semakin dekat kepada perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran [3]: 133)

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan bukanlah tentang siapa yang paling lama hidup, melainkan siapa yang paling cepat kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan amal yang saleh.

Muharram juga mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Baginda Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan dari kegelapan menuju cahaya, dari kesyirikan menuju tauhid, dari kemaksiatan menuju ketaatan.

Sayangnya, banyak di antara kita yang mengagumi kisah hijrah Rasulullah SAW, tetapi enggan melakukan hijrah dalam kehidupan sendiri. Kita mengetahui dosa yang sering dilakukan, tetapi menundanya untuk ditinggalkan.

Kita memahami kewajiban yang harus dikerjakan, tetapi menunggu waktu yang dianggap tepat. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah esok hari masih menjadi miliknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Muharram seharusnya menjadi momen muhasabah. Sudahkah shalat kita lebih baik dibanding tahun lalu? Sudahkah Al-Qur'an lebih sering kita baca? Sudahkah hubungan dengan orang tua, keluarga, dan sesama manusia semakin baik? Atau justru dosa-dosa yang sama masih kita pelihara hingga hari ini?


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network