Prinsip Nabi Yusuf: Menyiapkan Bekal di Masa Produktif
Islam adalah agama yang sangat visioner dan mengajarkan kemandirian. Mempersiapkan masa paceklik ketika fisik tidak lagi produktif adalah sebuah keniscayaan.
Al-Qur'an memberikan perumpamaan yang luar biasa cerdas tentang manajemen keuangan jangka panjang melalui kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Saat menafsirkan mimpi Raja Mesir, Nabi Yusuf tidak menyuruh rakyatnya untuk sekadar pasrah. Beliau memerintahkan sebuah strategi ekonomi yang sangat matang:
"Yusuf berkata: 'Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan.'" (QS. Yusuf [12]: 47)
Ayat ini merupakan fondasi dasar dari dana darurat dan dana pensiun dalam Islam. "Tujuh tahun subur" melambangkan masa muda kita yang produktif, sehat, dan bertenaga. Sedangkan "tujuh tahun paceklik" melambangkan masa tua di mana tenaga mulai menurun dan berbagai penyakit mungkin berdatangan.
Seorang Muslim yang bertakwa seharusnya meneladani strategi ini. Selagi masih muda dan berpenghasilan, jangan habiskan seluruh harta untuk gaya hidup yang konsumtif. Sisihkanlah sebagian untuk hari tua. Berinvestasilah, menabunglah, belilah aset produktif.
Tujuannya hanya satu: agar ketika usia senja tiba, kita tidak perlu menengadahkan tangan dan membebani finansial anak-anak kita yang juga sedang berjuang membangun keluarganya.
Menjaga Kehormatan di Usia Senja dengan "Tangan di Atas"
Ada kebanggaan dan kehormatan yang luar biasa ketika seorang Muslim mampu mandiri hingga akhir hayatnya. Islam sangat memuliakan hamba-Nya yang berusaha menjaga diri dari meminta-minta, termasuk meminta kepada anak sendiri jika sang anak nyatanya juga sedang dalam kondisi pas-pasan.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah... Barangsiapa yang menjaga kehormatannya (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan betapa indahnya jika di masa tua, kitalah yang memberi hadiah kepada cucu-cucu kita, bukan sekadar menunggu jatah bulanan dari anak yang mungkin memberikannya dengan susah payah.
Kemandirian finansial orang tua akan melahirkan birrul walidain yang murni. Sang anak akan berbakti, datang berkunjung, memijat, dan merawat orang tuanya dengan penuh cinta tanpa ada perasaan tertekan atau terbebani oleh tuntutan materi.
Jika pun anak ingin memberikan hartanya, biarkan itu keluar dari kerelaan dan kelebihan rezekinya, bukan karena kewajiban yang ditagih layaknya utang piutang.
Bayangkan indahnya jika di masa tua, kitalah yang memberi hadiah kepada cucu-cucu, bukan sekadar menunggu jatah bulanan dari anak. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
