HIKMAH JUMAT : Cerdas Tapi Masuk Neraka?

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, tidak selalu memiliki integritas yang tinggi. Semakin canggih teknologi, tidak otomatis membuat manusia semakin dekat kepada Tuhan. (Foto: Ist)

Sebaliknya, seorang pedagang kecil yang jujur, seorang guru yang ikhlas, atau seorang buruh yang bekerja dengan penuh amanah bisa jadi jauh lebih cerdas karena mereka memahami tujuan hidup yang sesungguhnya.

Allah telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran [3]: 185)

Ayat ini seolah menjadi kritik keras terhadap gaya hidup modern yang mengajarkan manusia mengejar dunia tanpa batas. Kita bekerja siang malam demi kenaikan jabatan, rela mengorbankan keluarga demi target karier, bahkan tidak sedikit yang menghalalkan segala cara demi memperoleh kekayaan.

Kita begitu pandai menyusun financial planning, tetapi lupa menyusun akhirat planning. Padahal Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Ayat ini bukan sekadar ajakan beribadah, tetapi perintah untuk membuat "perencanaan hidup" yang berorientasi akhirat. Seorang muslim seharusnya tidak hanya bertanya, "Berapa aset yang akan saya miliki lima tahun lagi?" tetapi juga, "Amal apa yang akan saya bawa ketika Allah memanggil saya malam ini?"

Inilah pertanyaan yang mulai jarang terdengar di tengah budaya materialisme. Hari ini orang berlomba-lomba terlihat sukses. Mobil mewah dipamerkan, rumah megah dipertontonkan, liburan mahal dijadikan konten. Yang penting terlihat berhasil, meskipun harus berutang, memalsukan citra, bahkan mengorbankan kejujuran.

Namun Islam justru mengajarkan arah yang sebaliknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ukuran kemuliaan menurut Allah bukanlah jumlah pengikut di media sosial, banyaknya penghargaan, atau besarnya saldo rekening. Semua itu bisa lenyap dalam hitungan detik. Yang tetap adalah ketakwaan.

Orang yang cerdas juga sadar bahwa musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsunya sendiri. Banyak orang gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena tidak mampu mengendalikan keserakahan, ambisi, dan syahwat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at [79]: 40–41)

 


Seorang pejabat yang mampu menyusun kebijakan hebat, tetapi mengkhianati amanah rakyat, juga bukan orang cerdas di sisi Allah. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network