HIKMAH JUMAT : Mau Dibawa Kemana Sisa Umur Kita?

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Sampai kapan kita akan terus mengejar dunia? Sampai kapan kita menunda taubat? Sampai kapan shalat hanya dikerjakan ketika sempat? (Foto: Ist)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat pula meminta percepatan.” (QS. Al-A'raf [7]: 34)

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Sebab setiap detik yang berlalu sesungguhnya bukan sekadar waktu yang hilang. Ia adalah bagian dari umur yang tidak akan pernah kembali.

Pada ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185)

Ayat itu sudah kita dengar berkali-kali. Kita tahu kematian pasti datang. Kita tahu dunia hanya sementara. Kita tahu akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Tetapi mengetahui tidak selalu berarti menyadari.

Kita tahu umur berkurang setiap hari, tetapi tetap hidup seolah-olah masih memiliki waktu yang tidak terbatas. Kita tahu kematian bisa datang kapan saja, tetapi masih sering menunda perubahan.

Kita ingin dunia yang nyaman, tetapi lupa bahwa dunia hanya persinggahan. Kita ingin panjang umur, tetapi belum tentu ingin memperpanjang amal. Kita takut kehilangan harta, tetapi jarang takut kehilangan waktu.

Kita cemas ketika saldo rekening menurun, tetapi sering tidak cemas ketika saldo umur terus berkurang. Padahal uang yang hilang masih bisa dicari. Harta yang habis masih mungkin dikumpulkan kembali.

Kesempatan bisnis yang gagal masih mungkin diganti. Tetapi umur yang telah berlalu tidak pernah bisa dibeli kembali. Hari ini yang pergi tidak akan kembali menjadi milik kita.

Maka, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah: “Berapa lama lagi kita akan hidup?” Melainkan: “Kalau Allah masih memberi kita waktu, untuk apa sisa umur ini akan kita gunakan?”

Umur Bukan Sekadar Angka

Dalam perspektif Islam, umur bukan sekadar angka. Umur adalah amanah. Allah tidak hanya akan bertanya berapa panjang umur kita, tetapi untuk apa umur itu digunakan. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan...”
(HR. Tirmidzi)

Perhatikan: bukan ditanya berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan terlebih dahulu, bukan berapa tinggi jabatan yang pernah diduduki, bukan berapa banyak pengikut di media sosial.

Tetapi, umur. Untuk apa dihabiskan?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat berat. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk mengejar dunia, sementara akhirat hanya mendapatkan sisa?


Hari ini kita masih bisa bersujud dan memohon ampun. Besok mungkin orang lain yang menyalatkan jenazah kita. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network