Berapa jam kita menatap layar ponsel, tetapi berapa menit kita membuka Al-Qur’an? Berapa lama kita mampu berdiskusi tentang politik, bisnis, sepak bola, hiburan, dan kehidupan orang lain, tetapi berapa lama kita berbicara dengan Allah dalam doa?
Berapa banyak energi kita gunakan untuk mencari pengakuan manusia, sementara perhatian kepada penilaian Allah justru semakin tipis? Jangan-jangan selama ini kita bukan kekurangan waktu. Melainkan kita hanya salah menentukan prioritas.
Yang Berkurang Bukan Hanya Umur, Tetapi Kesempatan
Setiap hari sebenarnya Allah memberi kita modal yang sama: waktu. Namun waktu itu tidak pernah bisa disimpan. Hari ini yang kita miliki adalah hari ini. Besok masih menjadi rahasia Allah.
Karena itu, orang beriman tidak boleh terlalu percaya diri dengan kata “nanti”. Nanti saya akan bertobat. Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin ibadah. Nanti kalau pekerjaan sudah selesai saya akan lebih dekat kepada Allah. Nanti kalau sudah punya banyak uang saya akan bersedekah.
Masalahnya, siapa yang menjamin kita akan sampai pada kata “nanti”?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 9)
Lalu, kalau hari ini kita sadar bahwa banyak waktu telah terbuang, apakah semuanya sudah terlambat?
Tidak.
Selama nyawa masih berada di dalam tubuh, pintu taubat masih terbuka. Justru kesadaran bahwa umur kita semakin pendek seharusnya menjadi energi untuk berubah. Tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mendekat kepada Allah. Mulailah dari sesuatu yang bisa dilakukan hari ini.
Karena itu, sebelum penyesalan datang, sebelum tangan tidak lagi mampu bergerak, sebelum mata tertutup untuk selamanya, mari gunakan sisa umur sebaik-baiknya. Jangan menunggu ajal mengajarkan kita arti kehidupan. (*)
Kita cemas ketika saldo rekening menurun, tetapi sering tidak cemas ketika saldo umur terus berkurang. (Foto: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
