Masa Tua Kita Sedang Dibentuk Hari Ini
Baginda Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis riwayat Muslim bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.
Hadis ini mengingatkan kita tentang berharganya pendidikan yang menumbuhkan iman dan kebaikan. Namun, kesalehan anak tidak hadir begitu saja. Ia perlu dibimbing melalui doa, kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan, seraya menyadari bahwa setiap anak tetap memiliki pilihan serta tanggung jawabnya sendiri.
Maka, pada momentum Sumpah Pemuda, mari bercermin. Jangan hanya menuntut pemuda menyelamatkan masa depan bangsa jika kita enggan mengambil bagian dalam pembentukan karakter mereka.
Mulai hari ini, tanyakan kepada diri sendiri: kapan terakhir kali saya berbicara dari hati ke hati dengan anak? Apakah saya sudah menjadi teladan yang layak mereka ikuti? Kebiasaan apa di rumah yang perlu diperbaiki? Dan nilai apa yang akan tetap hidup dalam diri mereka ketika saya tidak lagi berada di sisi mereka?
Jangan hanya menyiapkan harta untuk diwariskan, tetapi abaikan nilai yang harus diteruskan. Jangan hanya menginginkan anak sukses ketika kita masih hidup, tetapi lupa membekali mereka agar tetap berada di jalan Allah ketika kita sudah tiada.
Menitipkan masa tua kepada para pemuda berarti menyiapkan generasi yang bukan hanya mampu meneruskan kehidupan, tetapi juga menjaga kebaikan yang kita perjuangkan.
Sumpah Pemuda mengajarkan kita mewariskan cita-cita kebangsaan. Islam mengingatkan kita agar mewariskan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Sebab, pertanyaan terpenting bukan sekadar siapa yang akan menjaga kita ketika tua, melainkan generasi seperti apa yang akan kita tinggalkan ketika kita tidak lagi ada. (*)
Anak bukan sekadar kebanggaan yang dipamerkan ketika berprestasi. Mereka adalah amanah. (Foto: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
