HIKMAH JUMAT : Mengetuk Pintu Langit di Bulan Ramadhan
Keistimewaan Ramadhan sebagai bulan doa semakin terasa dengan adanya malam Lailatul Qadar. Pada malam itu, pahala ibadah dilipatgandakan melebihi ibadah seribu bulan. Tentu saja, doa yang dipanjatkan pada malam tersebut memiliki nilai yang sangat agung.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 1–3)
Ketika Ummul Mukminin bertanya kepada Baginda Rasulullah SAW tentang doa terbaik di malam Lailatul Qadar, beliau mengajarkan:“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku”. (HR. At-Tirmidzi)
Doa ini singkat namun penuh makna. Ia mengajarkan bahwa kebutuhan terbesar manusia bukanlah harta atau jabatan, melainkan ampunan Allah. Bergelimang harta dan jabatan yang tinggi tidak ada maknanya, jika hidup kita bergelimang dosa.
Untuk itu, agar doa di bulan Ramadhan benar-benar menjadi doa yang mustajab, kita perlu memperhatikan adab-adabnya. Baginda Rasulullah SAW bersabda:“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak sungguh-sungguh.”(HR. At-Tirmidzi)
Beberapa adab penting dalam berdoa antara lain: ikhlas hanya kepada Allah, memulai dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi, mengangkat kedua tangan, yakin dan tidak tergesa-gesa, serta menghindari makanan dan harta yang haram.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Baginda Rasulullah SAW menceritakan tentang seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun makanannya haram, pakaiannya haram, dan penghasilannya haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?
Doa bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti ketergantungan total kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir [40]: 60)
Ayat ini adalah jaminan langsung dari Allah. Namun, pengabulan doa bisa datang dalam berbagai bentuk: dikabulkan segera, ditunda hingga waktu terbaik, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga: dikabulkan segera, disimpan baginya di akhirat, atau dihindarkan dari keburukan yang semisalnya.” (HR. Ahmad bin Hanbal)

Editor : Syahrir Rasyid