HIKMAH JUMAT : Manusia Unggul Lulusan Ramadhan: Antara Euforia dan Transformasi Nyata
Menjadi manusia unggul hari ini tidak cukup hanya dengan ibadah ritual. Kita hidup di era digital yang menghadirkan ujian lebih kompleks. Dulu, maksiat mungkin butuh usaha. Sekarang, ia hanya sejauh satu klik. Dulu, dosa mungkin tersembunyi. Sekarang, ia bisa viral.
Di sinilah makna sabda Baginda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim: “Puasa adalah perisai”, menjadi sangat relevan. Perisai dari apa? Dari distraksi digital, dari budaya instan, dari gaya hidup hedonis, dan dari krisis makna yang melanda generasi modern.
Manusia unggul lulusan Ramadhan adalah mereka yang mampu membawa “mode Ramadhan” ke dalam kehidupan digitalnya: lebih selektif dalam konsumsi konten, lebih bijak dalam berkomentar, dan lebih sadar bahwa Allah selalu mengawasi.
Satu lagi indikator penting manusia unggul lulusan Ramadhan adalah pergeseran dari konsumsi ke kontribusi. Selama Ramadhan, kita terbiasa memberi dengan berzakat, berinfak, atau bersedekah.
Tapi setelahnya, banyak yang kembali menjadi “penikmat dunia” tanpa kontribusi berarti. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan [76]: 8)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia unggul adalah mereka yang hidupnya memberi manfaat. Bukan sekadar hidup untuk diri sendiri.
Di dunia kekinian, kontribusi ini bisa beragam: berbagi ilmu, membuat konten positif, membantu sesama, atau sekadar menjadi pribadi yang membawa ketenangan bagi lingkungan sekitarnya.
Salah satu indikator kegagalan adalah ketika semangat Ramadhan langsung “jatuh bebas” setelah Idul Fitri. Masjid kembali sepi, Al-Qur’an kembali tersimpan, dan dosa-dosa lama kembali dilakukan.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)
Ibadah tidak berhenti di Ramadhan. Justru Ramadhan adalah titik awal.
Baginda Rasulullah SAW juga memberikan “jembatan” agar semangat tetap terjaga: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Ini bukan sekadar anjuran, tetapi strategi spiritual agar kita tidak kehilangan ritme.

Editor : Syahrir Rasyid