get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Setelah Ramadhan Berlalu

HIKMAH JUMAT : Manusia Unggul Lulusan Ramadhan: Antara Euforia dan Transformasi Nyata

Kamis, 02 April 2026 | 05:04 WIB
header img
Shalat Tarawih. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses transformasi menuju kualitas manusia yang lebih tinggi. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

SETIAP TAHUN, Ramadhan selalu menghadirkan pemandangan yang sama: masjid penuh, tilawah menggema, sedekah meningkat, dan media sosial dipenuhi kutipan ayat serta nasihat kebaikan.

Namun, begitu bulan itu pergi, yang tersisa sering kali hanyalah kenangan, bukan perubahan. Pertanyaan yang perlu kita ajukan dengan jujur: apakah Ramadhan benar-benar melahirkan manusia unggul, atau hanya menghasilkan euforia spiritual musiman?

Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas menyampaikan tujuan utama puasa: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Kata “agar kamu bertakwa” adalah kunci. Artinya, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses transformasi menuju kualitas manusia yang lebih tinggi. Jika setelah Ramadhan kita tetap sama atau bahkan kembali pada kebiasaan lama, maka ada yang gagal dalam proses tersebut.

Ramadhan: Pabrik Karakter, Bukan Sekadar Tradisi

Ramadhan sejatinya adalah “pabrik karakter”. Ia melatih disiplin waktu, mengendalikan hawa nafsu, memperkuat empati sosial, dan mendekatkan manusia kepada Al-Qur’an. Namun ironisnya, banyak yang memperlakukan Ramadhan hanya sebagai tradisi, bukan proses pembentukan diri.

Kita bisa melihat fenomena ini di era digital. Selama Ramadhan, timeline media sosial penuh dengan konten religi. Tapi setelahnya? Kembali dipenuhi ghibah digital, ujaran kebencian, flexing, dan konten yang jauh dari nilai-nilai takwa.

Baginda Rasulullah SAW sudah mengingatkan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Hadits ini sangat relevan hari ini. Puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga menahan jari dari komentar toxic, menahan mata dari konten yang merusak, dan menahan hati dari penyakit riya’.

Ciri Manusia Unggul: Bukan Musiman, Tapi Berkelanjutan

Manusia unggul lulusan Ramadhan bukanlah mereka yang “saleh temporer”, melainkan yang konsisten. Dalam bahasa agama, ini disebut istiqamah. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Masalah kita hari ini bukan kurang semangat, tetapi kurang konsistensi. Di bulan Ramadhan, kita bisa khatam Al-Qur’an. Tapi setelahnya, membuka mushaf saja terasa berat. Di bulan Ramadhan, kita rajin ke masjid. Tapi setelahnya, adzan hanya jadi latar suara.

Inilah ironi spiritual umat modern: kuat di momentum, lemah dalam keberlanjutan.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut