HIKMAH JUMAT : Ibadah Haji, Perjalanan Spiritual Menuju Kesempurnaan Iman
Tawaf mengelilingi Ka’bah melambangkan bahwa Allah adalah pusat kehidupan seorang Muslim. Segala aktivitas hidup seharusnya berorientasi hanya kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka’bah).” (QS. Al-Hajj [22]: 29)
Tawaf juga mengajarkan keteraturan, kesabaran, dan ketundukan dalam mengikuti arus jamaah yang begitu besar.
Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah mengenang perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk putranya, Nabi Ismail. Ini adalah simbol usaha maksimal manusia yang diiringi dengan tawakal kepada Allah. Sa’i mengajarkan bahwa dalam hidup, kita harus terus berusaha, meskipun bisa jadi hasilnya belum terlihat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah...” (QS. Al-Baqarah [2]: 158)
Wukuf di Arafah merupakan inti dari ibadah haji. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Haji itu adalah Arafah.” (HR. Tirmidzi)
Di padang Arafah, jutaan manusia berdiri dalam doa dan tangisan, memohon ampunan. Suasana ini mengingatkan pada hari kebangkitan, ketika manusia dikumpulkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa perantara.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah), dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 199)
Yang terakhir adalah melempar jumrah yang melambangkan penolakan terhadap godaan setan, sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim AS ketika diuji. Ini adalah simbol bahwa dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim harus terus melawan hawa nafsu dan bisikan setan.
Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga transformasi spiritual. Seorang yang telah menunaikan haji diharapkan kembali dengan kepribadian yang lebih baik.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa haji yang mabrur membawa perubahan besar dalam diri seseorang. Ia menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih taat kepada Allah.

Editor : Syahrir Rasyid