HIKMAH JUMAT : Seni Melepaskan: Transformasi Spiritual dan Sosial di Balik Syiar Qurban
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
SECARA FITRAH manusia memiliki kecenderungan untuk menggenggam erat apa yang dianggap sebagai miliknya. Namun, Al-Qur'an mengingatkan kita bahwa pada hakikat kepemilikan yang sebenarnya: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi...” (QS. Al-Baqarah [2]: 284)
Penderitaan spiritual seringkali muncul karena kita merasa "memiliki" secara mutlak, sehingga muncul rasa berat untuk berbagi. Ibadah Qurban hadir sebagai madrasah tahunan untuk melatih “Seni Melepaskan” sebagai sebuah keterampilan hati untuk melepas yang fana demi meraih yang baqa.
Kisah Nabi Ibrahim AS adalah sebuah drama ketauhidan yang melampaui logika kemanusiaan biasa. Ibrahim adalah sosok yang sepanjang hidupnya dilatih untuk "melepaskan".
Beliau harus melepaskan kenyamanan negeri asalnya untuk berhijrah, melepaskan egonya saat berhadapan dengan ayahnya yang pembuat berhala, hingga puncaknya, melepaskan keterikatan emosional paling dalam terhadap putra yang dinantinya selama puluhan tahun, Ismail AS.
Dalam Al Qur’an surat Ash-Shaffat [37] ayat ke-102, kita dapat melihat sebuah dialog yang sangat demokratis sekaligus penuh ketundukan. Nabi Ibrahim tidak memaksa, ia bertanya: "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!"
Dan Sang Anak yang bernama Ismail itu, dengan kematangan tauhid yang luar biasa, menjawab: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu."
Di titik ini, Qurban sebenarnya adalah sebuah ujian "detachment" atau pelepasan. Allah tidak benar-benar menginginkan nyawa Ismail; Allah menginginkan "Ismail-Ismail" yang bertahta di hati Ibrahim agar turun tahta, sehingga hanya Allah yang menjadi satu-satunya pemilik cinta tertinggi.
Inilah esensi dari seni melepaskan: memiliki sesuatu tanpa membiarkan sesuatu itu memiliki hati kita.

Editor : Syahrir Rasyid