get app
inews
Aa Text
Read Next : Petisi Ahli Apresiasi Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Pemerasan di Industri Skincare

Lipstick Effect! Dolar Menguat Rupiah Anjlok, Mal dan Kafe Tetap Ramai

Selasa, 19 Mei 2026 | 17:43 WIB
header img
Istilah lipstick effect jadi pembicaraan netizen di tengah santernya kabar pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS dan bayang-bayang kondisi ekonomi. Foto: Dok

JAKARTA, iNewsSerpong.id — Istilah lipstick effect jadi pembicaraan netizen di tengah santernya kabar pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS dan bayang-bayang kondisi ekonomi yang kian berat. Namun pemandangan kontras yang memicu tanya: mengapa pusat perbelanjaan, restoran, hingga kafe mahal di ibu kota tetap disesaki pengunjung?

Fenomena unik ini dikenal dalam dunia ekonomi sebagai Lipstick Effect. Istilah ini mendadak ramai diperbincangkan di media sosial setelah akun X @TwipsX mengunggah cuitan yang menyoroti perilaku konsumsi masyarakat saat ini.

"Kalian ngerasa nggak sih, mal masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah dan ekonomi lagi susah," tulis akun tersebut.

Sejarah mencatat istilah Lipstick Effect pertama kali populer lewat pengamatan raksasa kosmetik Estée Lauder saat Amerika Serikat dihantam resesi pasca-tragedi 9/11 pada tahun 2001. Kala itu, penjualan barang mewah berskala besar seperti mobil ambruk. Namun uniknya, penjualan produk kecil penunjang penampilan seperti lipstik justru melonjak tajam.

Teori ini menggambarkan bahwa ketika daya beli untuk hal-hal besar (seperti membeli rumah atau liburan ke luar negeri) sudah tidak terjangkau, masyarakat akan mengalihkan uangnya ke instrumen hiburan kecil yang dianggap sebagai kemewahan terjangkau (affordable luxury).

Di Indonesia saat ini, gejalanya sangat terasa. "Orang nggak beli mobil baru, tapi beli kopi Rp80 ribu. Orang nggak liburan ke Jepang, tapi staycation di hotel bintang tiga," lanjut unggahan tersebut. Aktivitas nongkrong, berburu skincare, hingga membeli gadget dinilai sebagai bentuk 'pelarian' psikologis di tengah impitan ekonomi.

Oleh karena itu, ramainya pusat keramaian di permukaan bukanlah indikator bahwa ekonomi sedang baik-baik saja. Fenomena ini justru bisa menciptakan ilusi stabilitas yang semu, sebab di balik gaya hidup yang bertahan, sebagian masyarakat mulai menggerus tabungan atau bahkan mengandalkan utang konsumtif demi sekadar mencari pelarian murah dari kenyataan yang berat.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut