get app
inews
Aa Text
Read Next : Ibadah Haji 2026: Arab Saudi Pastikan Tetap Berjalan Sesuai Rencana 

Musyrif Dini Prof Asrorun Niam Imbau Jemaah Haji Siapkan Fisik Maksimal Jelang Wukuf Arafah

Senin, 25 Mei 2026 | 13:49 WIB
header img
Musyrif Dini Haji Indonesia 2026, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia agar segera mempersiapkan diri. Foto: MUI

"Hari Arafah adalah hari yang mustajab di tempat yang mustajab. Sebaik-baik doa adalah doa di Hari Arafah. Gunakan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampun atas kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada sesama," jelasnya.

Setelah wukuf di Arafah, jamaah akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk mabit, kemudian bergerak ke Mina guna melaksanakan lempar jumrah Aqabah dan mabit selama dua atau tiga hari disertai degan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah.

Secara khusus Kiai Niam menyampaikan apresiasi atas perbaikan skema pergerakan jamaah haji pasca Arafah, yang sejalan dengan prinsip syariah, mempertimbangkan menjaga agama (hifzhud din) dan menjaga jiwa (hifzhun nafs).

“Pergerakan jamaah dari Arafah dikelompokkan menjadi 3; jamaah yang bergerak dari Arafah jam 19 menuju Muzdalifah, akan turun dan berada di Muzdalifah hingga tengah malam untuk mabit setelah itu bergerak ke Mina naik bus. Kedua, jamaah yang bergerak dari Mina jam 23 dan sampai Muzdalifah sudah lewat tengah malam, maka mabit di Muzdalifah di atas bus lanjut ke Mina. Ketiga, jamaah yang ada udzur syari, seperti kondsi sakit, bergerak dari Arafah langsung ke Mina. Pengaturan ini sejalan dengan prinsip kemaslahatan yag tetap berada dalam koridor ketentuan syariah”, ujar Guru Besar Bidang Fikih ini.

Skema ini merupakan perbaikan yang dilakukan Musyrif Dini atas praktek sebelumnya. Di samping itu, Kiai Asrorun Niam juga mengingatkan jamaah terkait  waktu pelemparan jumrah di hari tasyriq dengan mengikuti ketentuan syariat. Ia menegaskan bahwa waktu yang sah untuk melempar jumrah pada hari-hari tasyrik dimulai setelah Salat Subuh.

"Meski waktu afdal adalah setelah tergelincir matahari (zuhur), itu adalah waktu yang sangat padat dan panas. Karena itu, lebih baik mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh maktab dan syarikah demi keselamatan dan kenyamanan jemaah," tegasnya.

Prof Niam mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan diri demi mengejar keutamaan waktu jika kondisi fisik tidak memungkinkan.

"Kepatuhan pada jadwal dan pengaturan yang telah ditetapkan adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah sekaligus tetap dalam koridor syariat," jelasnya.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut