Sebaliknya, Islam juga menjelaskan betapa besarnya keutamaan berteman dengan orang-orang saleh. Teman yang baik akan mengingatkan ketika kita lalai, menasihati saat kita salah, dan menguatkan ketika iman melemah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)
Ayat ini menegaskan pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang dekat dengan Allah. Orang-orang yang gemar berzikir, beribadah, dan berakhlak mulia akan menularkan kebaikan tersebut kepada sahabatnya, baik secara langsung maupun tidak.
Baginda Rasulullah SAW juga memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang teman yang baik dan teman yang buruk. Simaklah sabda Baginda Rasulullah SAW berikut ini:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau setidaknya kamu mencium bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau kamu mencium bau tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa teman yang baik pasti membawa manfaat, minimal memberikan pengaruh positif. Sementara teman yang buruk, meskipun tidak secara langsung merusak, tetap memberi dampak negatif.
Mengenali Teman “Toxic” dalam Perspektif Islam
Saat ini ada istilah dalam pertemanan yang populer yaitu “toxic friend”. Istilah “toxic friend” dalam konteks modern merujuk pada teman yang membawa pengaruh buruk, melemahkan mental, atau mendorong pada keburukan.
Di antara ciri-ciri teman yang harus diwaspadai pertama adalah teman yang mengajak kepada kemaksiatan dan melalaikan ibadah. Teman yang seperti ini suka meremehkan shalat, mengejek ketaatan, atau mengajak pada perbuatan haram yang jelas berbahaya bagi iman.
Yang kedua adalah teman yang senang mengghibah, fitnah, dan kebiasaan buruk lisan lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)
Selanjutnya adalah teman yang suka menanamkan sifat putus asa dan negatif, teman yang selalu mengeluh, merendahkan orang lain, dan menjauhkan dari harapan kepada rahmat Allah dapat merusak hati secara perlahan.
Yang terakhir adalah teman yang mendorong pada kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Islam mengajarkan keseimbangan, bukan hidup dalam hedonisme yang melupakan akhirat.
Orang-orang yang gemar berzikir, beribadah, dan berakhlak mulia akan menularkan kebaikan kepada sahabatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
