Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
SAAT INI kita tengah berada di hari-hari terakhir di bulan suci Ramadhan 1447 H. Hari-hari ini terasa begitu spesial karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yang dikenal dengan Lailatul Qadr.
Kita hidup di zaman yang penuh dengan informasi, tetapi sering kekurangan hikmah. Setiap hari manusia modern bangun dengan rutinitas yang hampir sama: mengecek ponsel, membaca pesan, membuka media sosial, lalu bergegas mengejar pekerjaan.
Hari demi hari berjalan begitu cepat, seolah hidup adalah perlombaan yang tak pernah selesai. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan hidup, banyak orang justru merasa semakin lelah, cemas, dan kehilangan ketenangan batin.
Kita terhubung dengan ribuan orang melalui internet, tetapi merasa semakin jauh dari ketenangan hati. Dalam kondisi seperti ini, Islam sebenarnya telah menawarkan sebuah praktik spiritual yang sangat relevan, yaitu i’tikaf.
I’tikaf dilakukan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan usaha terakhir untuk mendapatkan door prize Ramadhan yakni Lailatul Qadr. Namun demikian, i’tikaf bukan sekadar ritual Ramadhan yang dilakukan di dalam masjid.
I’tikaf adalah perlawanan spiritual terhadap dunia yang terlalu riuh. Ia adalah ruang sunyi, sekaligus kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak dari riuhnya kehidupan dunia, menata kembali hati, dan mengingat tujuan hidup yang sebenarnya.
Makna I’tikaf dalam Perspektif Islam
Secara bahasa, i’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang berarti menetap atau berdiam diri pada sesuatu. Dalam istilah syariat, i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu), sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang i’tikaf, orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud.” (QS. Al-Baqarah [2]: 125)
Ayat ini menunjukkan bahwa i’tikaf bukanlah ibadah yang baru dalam Islam. I’tikaf merupakan ibadah yang telah dikenal dalam syariat Islam dan telah menjadi tradisi spiritual yang telah dijalankan sejak masa para nabi dahulu.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
