Dari sinilah lahir ketenangan batin dan kekuatan mental yang menjadikan seorang muslim mampu menghadapi cobaan dengan lebih lapang dada. Baginda Rasulullah SAW pun mencontohkan hal ini.
Baginda Rasulullah SAW ketika menghadapi kesulitan, menjadikan shalat sebagai solusi pertamanya, bukan pilihan terakhir. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa: “Apabila Rasulullah ditimpa suatu perkara yang menyedihkan, beliau segera melaksanakan shalat.” (HR. Abu Dawud)
Selanjutnya, shalat lima waktu memiliki waktu-waktu tertentu yang tidak boleh dilanggar. Hal ini melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Seorang Muslim yang menjaga shalatnya akan terbiasa menghargai waktu dan komitmen.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa [4]: 103)
Kedisiplinan dalam shalat secara perlahan membentuk karakter yang kuat. Orang yang disiplin dalam ibadah akan lebih mudah disiplin dalam urusan dunia, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun tanggung jawab sosial.
Shalat juga mampu membentuk ketangguhan mental. Ketangguhan mental adalah kemampuan untuk tetap tegar di tengah tekanan dan tidak mudah putus asa. Shalat melatih hal ini melalui kesabaran, kekhusyukan, dan penghambaan total kepada Allah.
Dalam shalat, seorang muslim diajarkan untuk tunduk, sujud, dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan pengakuan kelemahan inilah muncul kekuatan sejati.
Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersabda: “Shalat adalah cahaya.” Cahaya di sini bukan hanya bermakna pahala, tetapi juga cahaya hati yang menerangi jalan hidup.
Orang yang hatinya terang akan lebih kuat menghadapi kegelapan masalah dan tidak mudah terjerumus dalam keputusasaan. Hubungannya kuat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai kunci utama ketangguhan jiwanya.
Shalat merupakan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dan Rabb-nya. Dalam setiap rakaat, seorang muslim membaca doa, pujian, dan permohonan ampun. Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim)
shalat bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan Allah, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam membentuk akhlak dan perilaku. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
