HIKMAH JUMAT : Ketika Langit Menjadi Jawaban Atas Krisis Zaman

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Masjidilaqsa tak bisa dilepaskan dari peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa agung itu bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan peta jalan kehidupan bagi umat Islam sepanjang zaman. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

HARI INI bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1447 H, dimana pada tanggal tersebut terjadi sebuah peristiwa agung yakni Isra dan Mi’rajnya Baginda Rasulullah SAW.  Peristiwa Isra diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’la dalam Al-Qur’an surat Al-Isra [17] ayat 1 yang artinya:

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Perjalanan malam itu, tidak hanya berhenti di Masjidilaqsa, yang dikenal dengan peristiwa Isra, namun kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Sidratulmuhtaha, yang dikenal dengan peristiwa Mi’raj.

Peristiwa Mi’raj dapat kita jumpai pada Al-Qur’an surat An Najm [53] pada ayat 12 yang artinya: “Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?”

Selanjutnya pada surat yang sama ayat ke-13 hingga 15 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuhtaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”

Kemudian masih pada surat yang sama ayat ke-16 sampai 17 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika di Sidratulmuhtaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).”

Terakhir pada ayat ke-18 masih di surat yang sama, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.”

Sebagaimana kita ketahui bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj ini terjadi setelah rentetan peristiwa yang menyedihkan hati Baginda Rasulullah SAW. Oleh karenanya, tahun itu dikenal dengan istilah Amul Huzni (tahun kesedihan).

Peristiwa Isra dan Mi’raj memberikan isyarat kuat bagi kita ummat Islam, bahwa ketika kita mengalami berbagai tantangan atau ujian seperti saat ini, maka sejatinya langit menawarkan jawaban atas segala krisis zaman.   


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network