JAKARTA, iNewsSerpong.id – Musim hujan ekstrem kembali menghantui sejumlah wilayah di Indonesia.
Banjir pun menjadi ancaman nyata, bukan hanya bagi warga, tetapi juga bagi pemilik mobil listrik atau electric vehicle (EV).
Meski kerap disebut lebih aman dari risiko korsleting, bukan berarti mobil listrik kebal terhadap air.
Standar Kedap Air Tinggi
Mengacu pada National Roads and Motorists' Association (NRMA) Australia, sistem kelistrikan dan baterai EV memang dirancang dengan segel kuat dan standar kedap air tinggi.
Namun, ada batas aman yang tak boleh disepelekan. Salah langkah, risikonya bisa fatal—mulai dari kerusakan baterai hingga potensi kebakaran.
Pertama, pemilik EV disarankan sebisa mungkin menghindari genangan banjir. Air setinggi 30 sentimeter saja dapat membuat mobil mengapung dan kehilangan kendali, apalagi jika disertai arus deras.
Terkecoh Genangan Dangkal
Kedua, jangan terkecoh genangan dangkal. Arus air di atas 7 km/jam cukup untuk menyeret kendaraan.
Ketiga, jika tinggal di wilayah rawan banjir, segera pindahkan mobil listrik ke tempat lebih tinggi saat ada peringatan dini. Air banjir, terutama air asin, dapat memicu thermal runaway pada baterai.
Terakhir, jangan pernah menyalakan atau mengisi daya EV yang sempat terendam banjir sebelum diperiksa teknisi. Gelembung, asap, atau bau menyengat adalah sinyal bahaya serius.
Musim hujan boleh datang, tapi keselamatan tetap nomor satu. (*)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
