HIKMAH JUMAT : Bulan Sya’ban Bukan Bulan Makan-makan

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Di berbagai daerah khususnya di Jawa Barat, bulan Sya’ban identik dengan tradisi makan bersama atau munggahan menjelang Ramadhan. (Foto: Ist)

Dalam sebuah hadits dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau banyak berpuasa pada bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

Hadits ini sangat jelas menegaskan bahwa bulan Sya’ban memang bulan yang sering dilalaikan manusia. Padahal, pada bulan Sya’banlah diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, Baginda Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban.

Jika Rasulullah SAW saja menyambut Sya’ban dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, maka sungguh keliru jika umatnya justru mengisinya dengan pesta dan berlebihan dalam makan.

Fenomena “Makan-Makan” di Bulan Sya’ban

Di berbagai daerah, bulan Sya’ban identik dengan tradisi makan bersama, kenduri, atau acara syukuran besar. Pada dasarnya, makan bersama dan bersedekah adalah perbuatan baik. Namun, masalah muncul ketika niat ibadah tergeser oleh ajang pamer.

Selain itu, terjadi pula pemborosan dan israf (berlebih-lebihan), sehingga banyak makanan yang terbuang sia-sia, terlebih lagi jika terdapat maksiat dan kelalaian menyertai dalam acara tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas melarang sikap berlebih-lebihan, sebagaimana firman-Nya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)

Ayat ini berlaku sepanjang waktu, terlebih lagi di bulan Sya’ban yang seharusnya menjadi momentum pengendalian diri, bukan pelampiasan nafsu. Sya’ban sebagai bulan latihan menahan nafsu, bukan mengumbar nafsu.

Oleh karenanya, puasa yang dianjurkan di bulan Sya’ban memiliki hikmah besar. Selain mengikuti sunnah Nabi SAW, puasa Sya’ban juga berfungsi sebagai latihan fisik dan mental sebelum Ramadhan.

Orang yang terbiasa berpuasa di Sya’ban akan lebih siap menyambut Ramadhan dengan jiwa yang tenang dan tubuh yang sudah terlatih. Ibunda Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Rasulullah SAW biasa berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan beliau biasa berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Tradisi buka puasa bersama di Masjid Istiqlal. Orang yang terbiasa berpuasa di Sya’ban akan lebih siap menyambut Ramadhan dengan jiwa yang tenang dan tubuh yang sudah terlatih. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network